Scroll to Top

Makan Steak Medium Rare atau Well Done yang Lebih Sehat?

By C Novita / Published on Tuesday, 25 Sep 2018

steak

Jika Anda menyukai steak, maka pasti akrab dengan istilah medium rare dan wel done. Itu adalah tingkat kematangan daging steak yang diinginkan oleh pelanggan.

Medium rare banyak disukai karena dianggap sebagai tingkat kematangan terbaik untuk daging, sebab kondisinya tidak terlalu matang atau terlalu mentah. Sedangkan well done, daging dipanggang hingga matang sempurna dan ini merupakan tingkat paling akhir dari proses memasak steak.

Lalu manakah di antara tingkat kematangan daging steak yang dianggap terbaik oleh ahli gizi? Hal ini dilihat dari tinjauan kesehatan semata, bukan dari sisi rasa.

Menurut Ahli Gizi Leslie Beck, sebenarnya tak ada beda yang mencolok dari sisi gizi jika dibandingkan antara steak medium rare dan well done. Namun, kemungkinan daging well done dipanggang lebih lama di atas bara api membuat kandungan karsinogen jenis heterocyclic amines (HCAs) lebih banyak. Zat karsinogen adalah pemicu kanker yang cukup berbahaya bagi manusia.

Sementara itu cara memasak medium rare yang lebih singkat, diyakini membuat zat karsinogen belum banyak terbentuk. Zat HCAs dapat terbentuk jika daging dimasak dengan cara dibakar, dipanggang, dan digoreng.

Zat tersebut akan terbentuk jika asam amino dan kreatin bereaksi terhadap suhu yang tinggi. Makin banyak gosong atau daging yang terlalu matang maka zat ini akan lebih banyak terbentuk.

Dalam tubuh manusia, zat HCAs dalam jumlah banyak akan beresiko menimbulkan polip usus. Hal ini telah diungkap dalam beberapa penelitian berskala cukup besar.

Namun menurut Leslie Beck, daging merah termasuk jenis makanan yang harus dibatasi asupannya, diluar dari cara memasak apakah diolah terlalu matang atau setengah matang.

“Well done atau tidak, lebih bijak untuk membatasi asupan daging merah,” kata Beck dikutip dari laman The Globe and Mail.

Makan daging merah berlebihan memicu terjadinya peningkatan risiko kanker kolorektal, diabetes tipe 2 dan penyakit jantung koroner.

 

 

 

 

Komentar Anda