Scroll to Top

Belum Tentu Mobil Murah Bakal Laku Keras

By Ilham Choirul / Published on Wednesday, 25 Jan 2012

tata_nano_launch

Harga murah memang menarik minat konsumen. Harga yang terjangkau membuat konsumen memiliki daya beli yang lebih kuat. Namun, strategi ini belum tentu cocok diterapkan untuk harga mobil. Tata Nano adalah contohnya. Gara-gara pasang harga murah, malah membuat imej mobil mini ini diperuntukkan untuk “pembeli miskin”.

Penjualan mobil murah dari India ini merosot tajam sejak kemunculannya di tahun 2009. Kesalahan terbesar bukan pada fisik mobil. Manajemen Tata Motors mengakui bahwa mereka menerapkan strategi harga yang salah sejak diperkenalkan. Dari target penjualan 25 ribu unit per bulan, faktanya kini pabrik Tata hanya mampu membuat 10 ribu mobil sebulan Padahal, kapasitas produksi pabrik bisa digenjot sampai 250 ribu mobil per tahun atau hampir 21 ribu unit per bulan.

Awalnya, dengan banderol sekitar Rp 25 juta – Rp 35 juta per unit, manajemen yakin produknya bakal laku keras di kalangan menengah ke bawah. Namun, di luar perkiraan, nilai gengsi masyarakat terhadap sebuah mobil ternyata cukup tinggi. Mereka lebih suka membeli mobil yang lebih mahal. Mereka juga rela memiliki mobil seken sekali pun harganya sama dengan sebuat Tata Nano yang baru.

“Nano identik dengan kendaraan orang  miskin. Tak ada yang mau diidentikkan begitu,” ujar Punnose Tharyan, redaktur majalah Motown di India, seperti dilansir Antara.

Akhirnya kebijakan pembenahan pun dilakukan Tata Motors. Terjadi peningkatan layanan untuk menarik minat konsumen dari sisi selain harga. Misalnya garansi sampai empat tahun, harga tetap, servis murah, dan kredit hanya dengan uang muka Rp 270 ribu yang disetujui dalam dua hari kerja. Selain itu, akan ada peremajaan dalam pemilihan warna pada bodi mobil.

Kalau dibandingkan dengan kondisi Indonesia, ada keserupaan dengan Tata Nano. Mobil nasional – seperti Esemka, Tawon, dan sebagainya – juga dibanderol dengan dengan harga murah. Dengan sifat sebagian konsumen Indonesia yang suka merek ternama, bisa jadi kasus Tata Nano juga berimbas pada pemasaran mobil nasional jika tidak mampu menyikapi dengan baik. Semoga saja hal itu tidak terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda