Scroll to Top

Ketika Josep Guardiola Membela Real Madrid

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 03 Feb 2012

Seberapa besar fair play Anda tidak akan diukur dari berapa banyak Anda berceramah tentang sikap yang seharusnya dilakukan para pelaku di dunia sepakbola. Seberapa jauh sikap menghargai lawan tidak akan mampu dilihat dari deretan kata-kata manis yang disampaikan saat konferensi pers. Sikap Andalah yang menentukan apakah Anda tergolong seorang olahragawan sejati, ataukah pecundang yang tak mampu menerima kekalahan.

josep guardiola

Josep Guardiola adalah salah satu dari sedikit orang yang dalam hidupnya selalu dipenuhi sportivitas. Guardiola tak pernah mengeluh atas tindakan wasit yang mencurangi para pemain Barcelona. Bahkan, musim ini, ketika Lionel Messi dan Xavi Hernandez tak kuasa menahan emosi akibat seringnya wasit di La Liga menghukum Barcelona dengan cara yang aneh, Guardiola bergeming. Tak ada frasa mencela keputusan sang pengadil dalam kamusnya.

Masalah penghormatan kepada klub lain, para pelatih yang lebih tua, layak malu atau segan kepada arsitek Barcelona berusia 41 tahun. Termasuk, dalam kasus yang satu ini.

Dalam laga Piala Super Eropa musim panas 2011 lalu, Barcelona sukses menggulung FC Porto dengan skor 2-0. Para fans meluapkan emosi keberhasilan tim mereka mendapatkan semua gelar dalam semua kompetisi yang mereka ikuti, kecuali Copa del Rey. Yel-yel “Madrid cabron, saluda al campeon!” pun bergema sebagai bentuk pelampiasan kepada Real Madrid. Ya, rival abadi Barcelona yang begitu ribut sepanjang awal 2011, cuma bisa memetik satu gelar di tahun 2011.

Mendengar yel-yel demikian, Guardiola langsung bersikap tegas. Tanpa perlu bersuara, ia menggerakkan telunjuknya tanda para fans Barcelona tak layak meneriakkan yel-yel itu lagi. Fans pun terdiam dalam sekejap, mematuhi sang pelatih kebanggaan Catalan.

Banyak pelatih yang begitu haus kemenangan. Apalagi berada di klub sebesar Barcelona dan Real Madrid yang pasti saling bersaing dalam segala hal. Sebuah piala di genggaman tangan, berarti lebih baik satu langkah dari musuh bebuyutan.

Pep Guardiola mengajarkan satu hal dari gerak tubuhnya yang singkat: Kala Anda meraih yang Anda inginkan dengan permainan indah, untuk apa mengotorinya dengan menyakiti atau menyudutkan pihak lain?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda