Scroll to Top

Beda Nasib Dua Playmaker

By Wan Faizal / Published on Sunday, 05 Feb 2012

Duel antara AS Roma vs Inter Milan, Minggu (5/2) pukul 21.00 WIB, juga memiliki cerita lain perihal nasib bertolak belakang yang dialami dua playmaker kedua tim, yakni Miralem Pjanic (Roma) dan Wesley Sneijder (Inter).

Pjanic, meski ini adalah pengalaman pertamanya merasakan ketatnya kompetisi Serie-A, telah mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai andalan baru Il Giallorossi. Ditransfer dari Olympique Lyon awal musim ini, pemain berusia 20 tahun itu mampu menjadi andalan Luis Enrique sejak giornata pertama Serie-A 2011-2012.

AS Roma 1-1 Bologna

Jika tidak mengalami cedera atau skorsing, dapat dipastikan Pjanic akan selalu mengisi daftar starting line-up Roma. Pjanic juga baru diganti oleh Enrique saat ia mengalami cedera atau ketika Roma sudah berada dalam posisi yang nyaman dalam sebuah pertandingan. Bukti bagaimana kepercayaan Enrique pada Pjanic.

Pemain asal Bosnia itu bisa dibilang adalah pembelian tersukses Roma musim ini. Pjanic mampu menjadi jawaban atas pola permainan yang diinginkan oleh Enrique. Hampir di setiap pertandingan yang ia lakoni, Pjanic selalu mengisi daftar lima besar pemain yang paling sering melakukan operan.

Statistik juga menunjukkan peran Pjanic bagi Roma. Dari 17 laga yang ia lakoni di Serie-A, semuanya dilalui sejak menit awal. Ia juga melahap 1431 menit diatas lapangan, menghasinya dengan 41 kali tendangan (14 tepat ke gawang), serta tiga gol dan lima assists.

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami Sneijder. Status sebagai trequartista andalan Inter dalam beberapa musim terakhir ternyata tak mampu membuatnya menjadi andalan Claudio Ranieri musim ini. Sneijder memang sempat didera cedera, namun ketika pulih namanya tetap sulit menembus skuad Inter.

Inter 4-4 Palermo

Kenapa? Ketika Sneijder cedera, Ranieri mencoba formasi alternatif 4-4-2, formasi yang jarang digunakan oleh Inter mengingat mereka selalu memakai formasi 4-3-1-2 dengan Sneijder sebagai playmaker.

Ternyata, formasi yang tak biasa itu justru mampu mengangkat performa Inter. Permainan sayap yang sebelumnya cukup diragukan, ternyata berhasil dimainkan dengan baik oleh Inter dibawah asuhan Ranieri.

Masalah muncul ketika Sneijder sudah pulih. Ranieri dihadapkan pada dilema apakah kembali menggunakan formasi 4-2-3-1 dengan mengandalkan Sneijder, namun berpotensi merusak irama yang telah hadir di tim dengan formasi 4-4-2.

Atau Ranieri tetap mengandalkan pola 4-4-2, namun harus membuat Sneijder manjadi “pengangguran”. Karena, Sneijder bukan lah tipe pemain yang bisa bekerja di pola 4-4-2 yang mewajibkan gelandang serang untuk ikut membantu pertahanan.

Faktanya bisa dilihat. Terlepas dari Sneijder yang sempat cedera, pemain asal Belanda itu memang tidak diberi banyak waktu untuk bermain. Musim ini, Sneijder hanya bermain 10 kali (590 menit dan tujuh sejak menit awal), dan hanya mampu mendulang satu gol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda