Scroll to Top

Ketika Jose Mourinho Menjadi Gelandang

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 09 Feb 2012

“Anda tidak tahu keadaan karena Anda tidak pernah menjadi pemain profesional, Mister!” Demikian sepenggal kalimat Sergio Ramos kala ditegur oleh Jose Mourinho. Ramos dianggap lalai oleh The Special One karena memilih bertukar posisi dengan Pepe dalam perempat final leg pertama Copa del Rey. Akibatnya, lahirlah gol Carles Puyol yang lolos dari penjagaan.

Jose Mourinho Rio Ave 1

Jose Mourinho memang bukan pemain yang berlaga di divisi tertinggi Liga Portugal. Namun, bukan berarti ia tidak bisa menggoyang bola.

Ya, Mourinho yang kelahiran Setubal, 1963 pernah menghabiskan waktu sebagai gelandang pada tahun 1980 hingga 1987.  Selama rentang waktu tersebut, ia bermain 94 kali untuk klub-klub Divisi Dua Liga Portugal.

Mourinho sendiri memang sudah cukup jenius sejak menjadi pemain. Setidaknya ia tahu di mana harus berlaga dengan kemampuannya.

Mou pernah berkata, “Saya orang yang cerdas. Saya tahu bahwa saya tidak bisa berkembang lebih jauh. Divisi II adalah level saya.”

Jose Mourinho Rio Ave 2Uniknya, dalam tujuh tahun bergelut sebagai pemain bola, Jose Mourinho tampaknya sudah memiliki jiwa pengelana. Buktinya, dalam 7 tahun tersebut, ia bermain untuk empat klub: Rio Ave, Belenenses, Sesimbra, dan Comércio e Indústria. Setidaknya, mendekati rekor menangani 6 tim dalam 12 karier melatihnya.

Karier awal Mou di Rio Ave dibantu oleh kenyataan bahwa sang ayah, Felix Mourinho menjadi pelatih klub tersebut.

Uniknya, meskipun menjadi seorang gelandang, bakat melatih Mou sudah tumbuh. Konon, ia kadang membantu sang ayah dengan memberikan laporan pembanding tentang jalannya pertandingan dan efektivitas strategi yang dimainkan.

Dua tahun bersama Rio Ave, Mou kemudian hijrah ke Belenenses. Di klub ini, The Special One bermain 16 kali dan mencetak 2 gol.

Sang pengelana kemudian singgah di Sesimbra. Dua musim di klub ini, Mou bermain 35 kali.

Jose Mourinho Rio AvePada 1985, Mou akhirnya mendaratkan pilihan terakhir pada Comércio e Indústria, klub yang bila diterjemahkan secara harafiah berarti “Perdagangan dan Industri”. Di klub ini, Mou mencatatkan rekor tersuburnya dalam berkarier. Ia mencetak 8 gol dalam 27 pertandingan.

Mou akhirnya benar-benar menyadari bahwa kariernya sebagai pesepakbola sudah mentok. Ia pun gantung sepatu di tahun 1987, kala berusia 24 tahun. Sejak saat itulah, dunia kehilangan seorang pemain sepak bola “sederhana” dan menemukan salah satu manajer terbaiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda