Scroll to Top

Apakah Citra Kepolisian Kembali Terangkat setelah Kemunculan Saeful Bahri?

By Ibnu Azis / Published on Wednesday, 22 Feb 2012

Citra Polisi

Kembali, satu lagi sosok polisi yang ‘meledak’ di media sosial. Laiknya istilah mati satu tumbuh seribu, sepertinya publik figur dari ranah kepolisian tak akan berhenti berkembang.

Belum lama ini muncul sosok polisi pria yang dielu-elukan di linimasa. Ia bernama Saeful Bahri. Kabarnya dirinya bertugas di Satuan Dalmas Polrestabes Bandung, Jawa Barat.

Sebelum nama Saeful Bahri booming, publik mengenal sosok Briptu Norman. Aksi gila ‘chaya-chaya-nya’ di Youtube mengundang sensasi, decak kagum, dan kecaman.

Publik mendukungnya, namun institusi tempat ia menghamba menghukumnya. Ia harus rela menanggalkan atribut kepolisian dan mantab berkarir di dunia hiburan.

Pasca Briptu Norman, atau mungkin sebelum ketenaran yang menghujam dirinya, sosok srikandi cantik Briptu Eka Frestya menggoda di acara berita Metro TV.

Ia sangat lihat laiknya seorang anchor berita dalam membawakan acara trafik lalu lintas. Sontak namanya moncer. Banyak kaum adam yang rela ‘menghuni penjara’ demi kena tilang Kartini kepolisian ini.

Jika diperhatikan, citra polisi pasca kasus Briptu Norman langsung terangkat. Polisi yang dulu identik akan kekerasan dan tindak semena-mena, dengan hadirnya Briptu Eka Frestya anggapan tersebut mulai pudar.

Namun setelah pemuda asal Gorontalo tersebut memutuskan untuk serius bernyanyi, citra ini mulai surut. Plus ditambah dengan aksi bringas polisi di beberapa daerah yang cenderung arogan. Sebut saja kerusuhan di Bima yang tidak sedikit mengundang kecaman.

Kini sosok Saeful Bahri muncul. Berkat sebuah tweet yang menyematkan fotonya, polisi yang bertugas di Bandung ini langsung menjadi primadona.

Namanya langsung mocer dan meroket dalam hitungan hari. Ia bahkan tak percaya akan fenomena ini. Meski Saeful Bahri mengaku sangat akrab dengan Facebook dan sering mengunggah fotonya di jejaring sosial tersebut.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Saeful Bahri mampu memerbaiki citra kepolisian yang mulai terdegradasi? Pasca hilangnya atribut ‘Briptu’ dari nama Norman, citra kepolisian lambat laut mulai tenggelam.

Institusi ini seperti kehilangan taringnya di publik. Masyarakat mulai mengecam atas tindakan polisi di pelbagai daerah. Citra polisi turun drastis. Sangat berbeda saat Briptu Norman masih menjadi primadona.

Baik Briptu Norman, Briptu Eka Frestya, dan Saeful Bahri, adalah punggawa-punggawa kepolisian di media. Mereka mencoba menunjukkan citra jika polisi tidak seperti apa yang masyarakat bayangkan. Polisi melindungi, mengayomi, dan ada di masyarakat selama 24 jam.

Jika Saeful Bahri mampu memertahankan kepopulerannya di media, bisa saja citra kepolisian akan terangkat kembali. Namun bila tidak, tinggal menunggu waktu saja. Suatu saat nanti pasti muncul Briptu-briptu yang lain di media rakyat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda