Scroll to Top

Pil Tidur Bikin Mati Lebih Cepat

By Ilham Choirul / Published on Thursday, 01 Mar 2012

Obat tidur mungkin akan menyelesaikan masalah insomnia dengan segera. Namun, tahukah Anda? Mengonsumsi obat ini secara rutin justru dapat menngakibatkan persoalan serius pada kesehatan Anda. Sebuah studi di AS, seperti dikutip DailyMail, menyebutkan ada potensi kematian dini lima kali lebih besar terhadap orang yang rutin makan obat tidur.

kecanduan pil tidur

Kalau dosisnya lebih besar, risiko kesehatan masih ditambah dengan kemungkinan terjadinya kanker. Pasien yang makan obat tidur sampai dengan 18 pil selama setahun, sudah memiliki risiko kematian dini dibanding yang tidur dengan cara normal.

Dalam dosis normal, obat tidur memberi kontribusi pada kematian dini hingga 4,6 kali dalam masa 2,5 tahun. Mereka yang minum hingga 18 pil setahun, risiko kematian dini meningkat 3,6 kali dibanding bukan pengguna.

Semakin tinggi dosis, risiko kematian menjadi lebih besar. Dari penelitian dari Jackson Hole Centre for Preventive Medicine di Wyoming dan Scripps Clinic Viterbi Family Sleep Centre di California, menemukan, pemakai obat tidur yang mengonsumsi 18-132 pil per tahun punya risiko meninggal 4,4 kali. Dan, yang makan lebih dari 132 pil per tahun potensi meninggal dini 5,3 kali lebih. Sementara itu, meski belum terlihat alasan yang jelas, pengguna berusia 18-55 tahun punya efek samping yang lebih besar terhadap pemakaian obat tidur.

Obat tidur yang dimaksud di sini adalah dari golongan benzodiazepin. Misalnya temazepam dan diazepam, zolpidem hipnotik sedatif terbaru, zopiclone dan zaleplon, dan barbiturat serta antihistamin sedatif.

Meski sudah diketahui efek samping tersebut para ahli menyarankan untuk  tidak menghentikan konsumsi obat tidur secara mendadak jika Anda telah kecanduan. Konsultasikan kepada dokter dahulu sebelum memutus ikatan dengan obat ini.

“Saya setuju obat ini memiliki masalah, tapi saya menemukan beberapa hasil ini sulit diterima.Yang utama adalah dengan dosis 18 pil per tahun Anda memiliki tiga kali potensi kematian. Itu cukup luar biasa,” kata Malcolm Lader, profesor farmakologi klinis di Institute of Psychiatry, King ‘s College, London.

“Kami perlu mengadakan penilaian sampai kita memiliki penelitian lebih lanjut,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda