Scroll to Top

Chelsea Belum Juara Eropa Bersama Roman Abramovich

By Fitra Firdaus / Published on Tuesday, 06 Mar 2012

Mereka yang mengejar mimpi, kadang mesti menguras air mata karena semakin dikejar, semakin menjauh pula mimpi tersebut. Hal ini berlaku pada Roman Abramovich. Sejak membeli Chelsea pada tahun 2003, Abramovich selalu mendambakan gelar Liga Champions. Namun, hingga 7 musim lebih, trofi kompetisi tertinggi Eropa tidak pernah ada di laci piala Chelsea.

Chelsea

Claudio Ranieri, Jose Mourinho, Avram Grant, Guss Hiddink, Luiz Felipe Scolari, Carlo Ancelotti, hingga Andre Villas Boas. Kecuali Grant, enam manajer lain adalah manajer berkualitas dunia. Namun, entah mengapa, gelar Eropa sepertinya enggan berlabuh ke Stamford Bridge.

Musim pertama Abramovich membeli Chelsea, ia tetap mempertahankan Claudio Ranieri sebagai manajer. Prestasi Chelsea sebenarnya cukup meyakinkan. Mereka mencapai semifinal Liga Champions. Hanya AS Monaco saja yang menyikat mereka dengan agregat 3-5.

Tersingkirnya Chelsea sendiri cukup menyakitkan karena di leg kedua, mereka sudah unggul 2-0 dari Monaco —yang membuat Chelsea akan lolos karena unggul agresivitas gol di kandang lawan—-. Namun, klub Prancis berhasil menyamakan kedudukan dalam rentang waktu 15 menit.

Tersingkir oleh klub yang levelnya di bawah mereka, Roman Abramovich memutuskan untuk mencopot Ranieri. Ditunjuklah Jose Mourinho, manajer Porto yang membawa gelar Liga Champions musim 2003/2004. The Special One memang luar biasa untuk urusan kompetisi domestik. Ia mengantarkan dua gelar Premier League berturut-turut setelah Chelsea puasa gelar juara liga selama 50 tahun.

Namun, urusan Liga Champions, tidak demikian.

Musim pertama Mou menangani Chelsea, mereka kembali terhenti di semifinal. Liverpool menyingkirkan The Blues dengan agregat 1-0.

Musim berikutnya, lebih menyakitkan. Chelsea tersingkir di babak 16 besar oleh Barcelona. Di kandang sendiri, Chelsea dibekap 1-2. Kemudian di Camp Nou, El Barca tinggal memaksimalkan hasil imbang 1-1.

Musim 2006/2007, lagi-lagi Liverpool yang mempecundangi Chelsea. Lokasinya pun sama, semifinal. Kalau pada musim pertama Mou menangani The Blues, Chelsea tersingkir dalam 180 menit, kali ini lebih tragis lagi. The Reds lolos setelah memenangi drama adu penalti 4-1.

Musim 2007/2008, Jose Mourinho pergi di tengah jalan. Avram Grant mengambil alih posisinya. Dengan manajer yang reputasinya kurang terkenal (sebelumnya melatih timnas Israel),

Chelsea justru mendapatkan hasil paling bersejarah di era Roman Abramovich. Mereka menembus final. Hanya keberuntungan saja yang membuat Manchester United memenangi adu penalti 6-5.

Membawa Chelsea menjadi runner-up tidak membuat Avram Grant aman. Ia tetap dicoret di musim berikutnya.

Musim 2008/2009 adalah musim penuh prahara. Luiz Felipe Scolari yang menangani Chelsea tidak mendapatkan loyalitas John Terry dan Frank Lampard, duo big boss Chelsea di ruang ganti. Scolari didepak di tengah jalan dan Guus Hiddink masuk menjadi manajer sementara.

Lagi-lagi, Chelsea mentok di semifinal Liga Champions. Mereka tersingkir dalam pertandingan kontroversial menghadapi Barcelona —-yang menjadi juara Liga Champions musim itu—. Gol Andres Iniesta di menit terakhir membuat publik Stamford Bridge mesti menahan kerinduan kembali lolos ke final.

Musim 2009/2010, Carlo Ancelotti dibawa ke Chelsea. Namun, Don Carlo tak bisa juga melahirkan gelar pertama di Eropa. Chelsea didepak oleh Inter Milan —klub Jose Mourinho– dengan agregat 3-1. Inter memenangi baik partai kandang maupun tandang atas The Blues.

Musim lalu, giliran Manchester United yang menenggelamkan Chelsea di perempat final. Kejadian pun serupa, United memenangi partai home dan away mereka.

Musim ini, manajer muda Andre Villas-Boas didapuk sebagai pemimpin. Namun, kegagalan AVB merayu John Terry dan Frank Lampard untuk bekerjasama dengannya berakibat fatal. Villas-Boas limbung di tengah jalan dan posisinya digantikan Roberto Di Matteo, legenda Chelsea era 1990-an yang sebelumnya menjadi asisten pelatih.

Namun, fans Chelsea harus siap-siap jika mereka kembali kecewa. Saat ini, Chelsea berada di 16 besar Liga Champions. Menghadapi Napoli, butuh keajaiban dan fokus semua pemain untuk lolos.

Mengingat, Napoli menyikat The Blues 3-1 di San Paolo. Akankah Roman Abramovich kembali termenung di tahun kedelapannya menanti trofi Liga Champions?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda