Scroll to Top

APOEL Klub Liga Siprus Lolos ke Perempat Final Liga Champions

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 08 Mar 2012

Masih ingat ketika Indonesia sukses menjadi runner-up AFF Cup 2010 lalu? Ketika itu ketua umum yang sekarang sudah lengser, sempat berkata, keberhasilan tim Garuda tampil di partai puncak adalah berkat partai politik tertentu.

APOEL

Padahal, dalam sejarah penyelenggaraan AFF Cup (termasuk ketika masih bernama Piala Tiger), Indonesia tercatat sudah tiga kali masuk ke final sebelum tahun 2010. Prestasi yang sebenarnya “biasa-biasa saja”; namun karena warta yang berlebihan, Indonesia seolah memenangi Piala Dunia.

Ternyata, tidak hanya di Indonesia saja para politikus bermain-main dengan prestasi klub sepakbola. Di Siprus, negara yang lebih sering diinjak-injak oleh negara-negara elite Eropa, sempat terjadi ledakan pujian berlebihan dari para politikus.

Pasalnya, APOEL Nicosia, klub terbaik di negeri tersebut, lolos ke babak 16 besar Liga Champions musim ini. Seperti yang pernah diberitakan Sidomi sebelumnya, para politisi Siprus berebutan memuji APOEL agar bisa dilirik oleh masyarakat setempat yang jumlahnya hanya tak lebih dari 1 juta orang.

Hari ini, sejarah kembali tertulis. Para pemain Siprus seperti tengah tak bisa lepas dari sepatu ajaib Cinderella. Mereka sempat kalah 1-0 di kandang Olympique Lyon pada leg pertama. Namun, di leg kedua, GSP Stadium menjadi saksi perjuangan gagah berani APOEL.

Sebuah gol Gustavo Manduca mampu memaksakan skor 1-0 hingga 90 menit. Artinya, agregat 1-1.

Babak perpanjangan waktu pun terjadi. Gustavo Manduca sempat hampir menjadi pesakitan di kubu APOEL. Pelanggaran terhadap Alexandre Lacazette membuat gelandang berusia 31 tahun ini mendapatkan kartu kuning kedua di menit 115.

Bermain 10 orang dalam waktu 5 menit tersisa, APOEL sukses memaksakan drama adu penalti. Di sinilah fakta bahwa batas keberuntungan dan kesialan hanyalah setipis benang. Hingga penendang ketiga, baik pemain Lyon maupun APOEL tak melakukan kesalahan.

Tibalah masa bagi Alexandre Lacazette. Pemain yang memaksa APOEL kehilangan satu pemain, justru menjadi penendang penalti pertama yang gagal dalam laga ini. Sebaliknya, Nektarios Alexandrou sukses membobol gawang Hugo Lloris. 3-4, APOEL memimpin.

Kesempatan terakhir datang untuk Michel Bastos. Andai tendangannya masuk, napas Lyon masih tersisa meski sedikit. Namun, Dionisis Chiotis yang “mengenakan sepatu Cinderella” berhasil mematahkan penalti Bastos. Lyon, klub yang menang 7-1 atas Dinamo Zagreb dengan cara kontroversial, tersingkir di babak 16 besar Liga Champions.

Sementara, APOEL melanjutkan mimpinya ke perempat final; sesuatu yang sangat mungkin kembali dipolitisasi oleh para pemimpin di Siprus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda