Scroll to Top

Ketika Sevilla Melumat Barcelona 11-1

By Fitra Firdaus / Published on Saturday, 17 Mar 2012

Duel Sevilla vs Barcelona akhir pekan ini menjadi duel yang paling ditunggu-tunggu. Apakah Sevilla mampu melanjutkan catatan spektakuler mereka 23 Oktober 2011 lalu? Ketika itu Sevilla mampu menahan gempuran demi gempurna Lionel Messi dkk. di Camp Nou.

Sevilla vs Barcelona

Tak cukup dengan hal tersebut, pasukan Marcelino Garcia Toral (pelatih Sevilla saat itu) semakin membuat rakyat Catalan frustrasi ketika penalti Lionel Messi dimentahkan Javi Varas di menit 95.

Apakah yang terjadi justru sebaliknya? Barcelona yang tengah on fire, melibas lawan-lawan mereka dengan penuh gaya. Valencia dan Bayer Leverkusen yang dari segi kelas mampu memberi perlawanan kuat, ditumbangkan dengan skor besar, 5-1 dan 7-1. Bukan tidak mungkin Barcelona mampu memetik tiga angka untuk memberikan sedikit tekanan kepada Real Madrid yang bermain lebih belakangan.

Sebelum melihat duel sengit Sevlla dan Barcelona, tak ada salahnya kita mengenang memori suram bagi klub Catalan ketika melawat ke kandang Sevilla pada 71 tahun lalu, tepatnya musim 1940/1941. Ketika itu, Sevilla yang masih bermukim di Estadio de Nervion, mempermalukan Barcelona dengan skor yang tidak tanggung-tanggung, 11-1.

Hingga saat ini, ini adalah rekor kemenangan terbesar Sevilla sepanjang sejarah, selain kemenangan atas Real Oviedo dengan skor 10-0 pada musim 1941/1942.

Sementara, bagi Barcelona, kekalahan 11-1 dari Sevilla adalah salah satu kekalahan terburuk sepanjang masa, tentu selain kehancuran mereka atas Athletic Bilbao 12-1 pada musim 1930/1931.

Pertandingan dengan skor fantastis 11-1 ini sendiri terjadi pada tanggal 29 September 1940, partai pertama La Liga musim tersebut. Barcelona bukannya tidak memberi perlawanan. Mereka bahkan mencetak gol lebih dahulu melalui Vale di menit 10.

Namun, unggul lebih dahulu tidak berarti El Barca mampu memenangi laga. Sevilla, yang musim sebelumnya duduk di posisi runner-up La Liga, membalas di menit 23 melalui Berrocal. Gol ini langsung menghancurkan mental pasukan Catalan.

Hanya dalam empat menit berikutnya, gawang Barcelona terkoyak tiga kali oleh tiga orang berbeda: Raimundo (menit 25), Campanal (menit 27), dan Torontegui (menit 28).

Skor 4-1 yang menutup babak pertama, tidak menghalangi Sevilla untuk menambah pundi-pundi gol. Di babak kedua, Raimundo menambah sebiji gol, Torrontegui dengan dua gol (sehingga hattrick), dan yang paling sensasional adalah Campana yang mampu mencetak empat gol tambahan; sehingga ia ‘sebanding’ dengan Lionel Messi yang mencetak lima gol melawan Bayer Leverkusen beberapa waktu lalu.

Sayangnya, menang besar tidak menjamin Sevilla menjuarai La Liga musim tersebut. Cukup ironis karena di klasemen akhir mereka menghuni peringkat lima, di bawah Barcelona yang duduk di posisi empat dengan perbedaan satu angka saja (26 berbanding 27).

Kini, memori pahit itu memang susah diulangi. Sevilla sudah menggunakan Ramon Sanchez Pijzuan setelah Estadio Nervion ditutup pada 1958. Kekuatan mereka juga tidak “seperkasa” musim 1940/1941. Pada 71 tahun lalu, Sevilla mampu mencetak 70 gol hanya dalam 22 pertandingan (jumlah peserta La Liga cuma 12). Sementara kini, pasukan Michel, pelatih baru Sevilla, cuma mengemas 27 gol dari 26 laga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda