Scroll to Top

Masih Adakah Privasi Di Dunia Maya?

By Ivan Azzam / Published on Monday, 04 Jul 2011

Siapa yang bisa menyangkal kalau generasi muda Indonesia kini (anda dan saya) adalah generasi internet? Generasi yang disatukan oleh dunia maya, apalagi kita semua makin terbantu dengan perangkat komunikasi yang semakin mungil tapi memiliki fungsi segalanya, termasuk untuk berinternetan tentunya. Berikut opini saya yang disadur dari Gigaom

Dengan perangkat tersebut, kita bisa menyimpan kejadian-kejadian yang kita alami hari ini, berbagi dengan orang lain, intinya hampir tak ada sekat antara ruang publik dan privasi, yah memang bisa dikatakan ini efek dari globalisasi terhadap generasi sekarang.

Selain perangkat komunikasi yang mendukung, medium situs jejaring sosial juga sangat berpengaruh pada gaya hidup generasi masa kini, sebutlah Friendster, yang adalah pelopor jejaring sosial pada masanya, tentunya saat masih populer pertanyaan semacam “FS lo apa? Sini gw add” dan semacamnya seperti menjadi santapan sehari-hari.

Begitu pula silih berganti situs jejaring yang populer, setelah Friendster, lalu Facebook, lalu Twitter, dan kini ada Google+, semua itu demi memuaskan kebutuhan sosial (walau secara maya) umat manusia. Dengan medium jejaring sosial tersebut, kita seolah memberitahukan ke seluruh dunia “Ini lho saya, hari ini lagi begini”, kita juga membiarkan orang tahu apa saja kegiatan harian kita, apa kesenangan kita dan semacamnya. Tak janggal rasanya bila ada yang mengatakan internet sudah menjadi kebutuhan primer generasi masa kini dan mendarah daging dalam kehidupan kita.

Di saat peluang berbagi informasi kini sudah ada dimana-mana, tentu muncul pertanyaan, bahkan debat mengenai topik dimanakah posisi privasi? Seperti yang dikutip dari blog ini, alasan dari penggunaan situs jejaring adalah berbagi, bukan menyembunyikan sesuatu. Ambil contoh Twitter, pengguna dipaksa untuk berbagi segala hal atau membatasi pembagian itu ke orang yang dipilih. Intinya banyak orang sebenarnya ingin berbagi mengenai segala hal yang mereka alami, namun mereka ingin mengatur siapa saja yang berhak tahu privasi mereka.

Apakah gagasan mengenai “teman” menjadi terlalu tipis sebagaimana banyak definisi mengenai “kontak” di berbagai situs jejaring? Dari hal tersebut muncul pertanyaan lagi, apakah kita rela berkenan berbagi dengan teman sungguhan yang kita kenal di dunia nyata? Atau tidak terlalu kita kenal di dunia nyata namun cukup akrab di dunia maya?

Masalah utamanya adalah, tidak ada standar universal mengenai pengaturan privasi di semua situs jejaring, masing-masing situs memiliki interpretasi berbeda mengenai privasi dan apa konten yang bisa dibagi-bagikan atau tidak, ditambah lagi ada banyak aplikasi pihak ketiga yang digunakan situs jejaring, yang membuat konten pengguna menyebar melalui berbagai layanan. Karena itu muncul ambiguitas bagaimana pengaturan privasi sebaiknya dilakukan dan menguntungkan pengguna.

Intinya dari opini saya, privasi seseorang di dunia maya sebenarnya sangat riskan, maka lebih baik kita sebagai pengguna situs jejaring tak perlu membeberkan apapun agar terlindung dari kejahatan dunia maya dan juga ada perlu persamaan dari situs jejaring yang ada dalam menginterpretasikan apa itu privasi pengguna.

Tagged as:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda