Scroll to Top

Biri Biri Pioner Sepakbola Afrika di Liga Spanyol

By Fitra Firdaus / Published on Tuesday, 27 Mar 2012

Namanya mungkin tidak dikenal oleh penggemar sepakbola pada umumnya. Bahkan, julukannya bisa membuat orang tersenyum simpul: Biri Biri. Namun, Alhaji Momodo Nije, demikian nama asli pemain ini, adalah pionir para pesepakbola Afrika untuk merumput di Liga Spanyol.

Biri Biri

Lahir pada 30 Maret 1948 di Banjul, Gambia, Biri Biri mungkin tidak akan menyangka namanya akan menjadi salah satu legenda sepakbola Afrika. Mulanya, ia hanya bermain untuk Agustians FC, klub lokal Gambia selama lima tahun sejak 1965 hingga 1970.

Kesempatan emas bagi Biri Biri datang pada tahun 1970. Ketika itu, pemandu bakat Derby County, klub Liga Inggris tertarik pada kemampuan pemain yang kala itu berusia 22 tahun. Maka, dibawalah Alhaji Momodo Nije ke Eropa; sebuah kesempatan yang mungkin tak pernah terlintas dalam mimpi terbaiknya sekalipun.

Sayang, kehadiran pertama Biri Biri di Eropa menjadi petaka. Ia gagal beradaptasi dengan budaya Inggris; plus manajer Derby County saat itu, Brian Clough, tidak cukup memberinya kesempatan. Alhasil, pada tahun yang sama, Biri Biri kembali ke Gambia dengan status “pemain gagal”.

Dua tahun berlalu. Biri Biri memperkuat klub setempa Wallidan Banjul. Di sini, Biri Biri yang bisa bermain di possi apa pun di lini depan, akhirnya menetapkan diri sebagai sayap kanan.

Dua tahun tak melihat Eropa, kesempatan kedua hadir. Kali ini, bukan klub dari Liga Inggris yang mengontaknya. Melainkan klub Denmark yang namanya seperti plat mobil di Indonesia, B 1901 (klub ini sendiri sekarang sudah lenyap dan berganti nama menjadi LFA). Dengan kehadirannya di liga yang tak terlalu elite, Biri Biri memperoleh jatah bermain. Ia pun tercatat sebagai pemain Afrika pertama yang bermain di Liga Denmark.

Cuma semusim Biri Biri bertahan di B 1901. Musim 1973/1974, ia pun berpindah haluan ke Liga Spanyol. Sevilla menjadi pilihan utama sang pemain. Saat itu, Sevilla masih bernama Sevilla CF bukan Sevilla FC seperti saat ini. Maklum, ketika itu Spanyol masih berada dalam kekuasaan rezim Jenderal Franco yang menolak semua klub yang  memiliki embel-embel “FC”. Alasannya, penggunaan istilah FC dianggap tidak patriotis.

Di Sevilla, karier Biri Biri pun menjulang. Berpredikat sebagai pemain Afrika pertama yang berlaga untuk klub yang sekarang “tinggal” di Ramon Sanchez-Pijzuan, Biri Biri mengeluarkan tuahnya.

Dalam 99 pertandingan liga, Biri Biri mampu mengoleksi 31 gol. Penampilannya, terutama dalam urusan dribble bola dan tembakan ke gawang, membuat fans Sevilla jatuh hati. Biri Biri menjadi salah satu instrumen penting ketika Sevilla lolos ke Primera Division musim 1975/1976. Karier Biri Biri di klub Andalusia berakhir pada 1978. Namun, namanya terlanjur membekas di hati para fans Sevilla.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Biri Biri telah pensiun, fans masih mengelu-elukan namanya. Bahkan, salah satu kelompok fans Sevilla, menggunakan nama Biri Biri sebagai nama kelompok mereka, Biri Norte 1905.

Penampilan sempurna pemain Afrika yang asing di telinga kita ini, semakin dibuktikan pada tahun 2000. Ketika itu, Biri Biri dinobatkan sebagai pemain terbaik Gambia abad XX. Bahkan, rekan senegaranya, sempat berkata, bisa jadi Biri Biri atau Alhaji Momodo Nije adalah pemain yang lebih hebat daripada Diego Maradona.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda