Share

Kalau ada ucapan “sepakbola menyatukan segalanya”, hal itu pasti diamini oleh klub Atletico Tetuan. Klub Maroko ini merasakan sendiri makna ucapan tersebut. Buktinya, meski berasal dari Maroko, klub ini pernah menikmati serunya bertanding di Liga Spanyol yang belakangan dianggap sebagai liga elite dunia. Bagaimana caranya?

Atletico Tetuan

Maroko pernah menjadi daerah jajahan kerajaan Spanyol. Hal ini terjadi pada tahun 1913 hingga 1956. Ketika itu, Kerajaan Spanyol menyulap wilayah ini dengan nama Protectorado español de Marruecos. Hampir setengah abad dijajah oleh negeri asing, sepakbola Maroko mendapatkan perhatian khusus di tahun-tahun terakhir kekuasaan kerajaan Spanyol di negeri tersebut.

Salah satu klub mendapat kesempatan untuk menjajal ketangguhan mereka di Primera Division musim 1951/1952. Mereka adalah Atletico Tetuan.

Tentunya, Atletico Tetuan tidak langsung mentas ke Primera Division. Mereka sempat dua musim bertahan di Segunda Division (divisi dua) Liga Spanyol sebelum berangkat ke kasta teratas.

Bermain di wilayah lawan, Aletico Tetuan mungkin tangguh jika berhadapan dengan klub-klub level dua Spanyol. Tidak demikian ketika mereka berada di Primera Division.

Tampil 30 kali, Tetuan cuma memperoleh 19 poin. Hasil dari 7 kali menang (saat itu kemenangan dinilai dengan 2 angka), 5 kali seri, dan 19 kekalahan. Mereka mencetak 51 gol, tapi terbobol 85 kali.

Duduk di peringkat 16 alias juru kunci, Atletico Tetuan akhirnya terdegradasi. Mereka berkutat di Segunda Division hingga empat tahun kemudian.

Pasca Maroko meraih kemerdekaan pada 1956 berkat pengakuan Perancis dan Spanyol, berakhir pula petualangan Atletico Tetuan di tanah penjajah. Klub ini terpecah menjadi dua bagian.

Yang pertama, Club Atletico Maghreb yang bermarkas di Tetouan, Maroko. Pada kemudian hari, klub ini bernama lengkap Maghreb Athletic Tetouan dan lebih sering disingkat MAT.

Pecahan kedua, tetap tinggal di Spanyol. Pecahan ini kemudian bermerger dengan Sociedad Deportiva Ceuta untuk membentuk AD Ceuta. Ya, klub inilah yang kemarin diberitakan Sidomi tengah menghadapi protes para pemainnya yang menuntut gaji yang ditunggak empat bulan.

Kini, MAT ( Maghreb Athletic Tetouan) berlaga di liga utama Maroko yang disebut Liga Botola. Sementara, mereka ada di peringkat kedua dan berhak mendapatkan tiket ke Liga Champions Afrika.

Meski berlaga di Liga Spanyol bisa dikatakan lebih karena kebetulan dijajah, MAT layak berbangga dengan prestasi mereka. Termasuk ketika menumbangkan klub elite Atletico Madrid 4-1 di musim 1951/1952.