Scroll to Top

5 Masalah Usai Menikah yang Kerap Disembunyikan

By Ilham Choirul / Published on Tuesday, 22 May 2012

bertengkar

Seringkali pernikahan diasumsikan sebagai keadaan yang membahagiakan tanpa ada masalah. Mungkin anggapan itu wajar, karena banyak pasangan yang berusaha menyembunyikan semua prahara dalam rumah tangganya. Sehingga, yang terlihat adalah kebanyakan pasangan suami istri hidup sangat bahagia. Benarkah demikian?

Bisa jadi memang benar adanya jika pasangan bisa mengatasi semua gejolak rumah tangga. Pertengkaran dan konflik itu pasti ada. Kalau berhasil mengatasinya, maka keretakan rumah tangga bisa diatasi. Kalau gagal, sedikit rasa jengkel akan muncul dari konflik. Kalau sampai parah, bisa berujung pada perceraian.

Setidaknya, ada lima hal yang mungkin kurang menyenangkan dan sebaiknya segera diatasi dalam hidup berkeluarga:

  • Merasa kesepian. Tidak setiap saat suami istri itu selalu bersama. Kala suami atau istri ada yang bekerja penuh waktu dari pagi sampai malam, bisa menjadi pertanda rasa sepi akan melanda. Suami yang seharian bekerja dan malam hanya dipakai untuk rehat, bisa merengganggkan komunikasi. Jadi, perbaiki urusan komunikasi ini.
  • Bisa melakukan seks setiap saat. Anggapan ini tidak selalu benar. Pasalnya, seks tergantung oleh libido yang dipengaruhi banyak hal. Pasangan yang sedang konflik atau problem lainnya, biasanya libidonya menurun. Jadi, menikah bukan berarti bisa selalu bercinta tanpa halangan.
  • Persoalan finansial. Bisa jadi, salah satu pemicu masalah rumah tangga yang cukup banyak ditemui adalah urusan keuangan. Saat keuangan tidak juga membaik, cekcok pun kerap terjadi. Kedewasaan mulai berkurang dengan saling menyalahkan. Manajemen keuangan rumah tangga itu perlu untuk diterapkan.
  • Bermasalah dengan mertua. Ini masalah klasik. Kadang perangai mertua atau menantu menjadi masalah dalam biduk rumah tangga. Ada yang merasa orang tua salah satu pasangan terlalu mendikte kebijakan rumah tangga. Atau, mertua merasa menantunya berbuat kurang baik dalam berkeluarga. Namun, kalau mertua dan menantu cukup efektif menjalin komunikasi yang baik dan memahami posisinya, masalah ini bisa diredam.
  • Kehadiran anak belum tentu menjadi solusi. Sebagian orang mengatakan, keluarga akan bahagia dengan kehadiran anak. Tapi, hal ini justru menjadi masalah kala pasangan ternyata tidak menghendaki anak dengan segera. Pasalnya, mungkin keduanya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Akhirnya, kehadiran anak menjadi sumber tekanan batin. Oleh karena itu, sebelum memutuskan memiliki anak, sebaiknya persiapan mental juga mesti dimatangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda