Scroll to Top

Indonesia Satu Derajat

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 04 Nov 2011 03:05 AM / Comments Off

Indonesia Satu Derajat merupakan sebuah inisiatif dari masyarakat online yang prihatin terhadap kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Semua halaman di situs ini sengaja dibuat miring satu derajat (1°) ke kanan, demi mendukung inisiatif Indonesia 1° ini.

Banyak hal yang patut dibanggakan dari Indonesia, namun tidak sedikit pula yang layak dikritik cerca dan perlu perbaikan.

Mulai dari pejabat pemerintahan yang tidak juga serius berbenah hingga kondisi masyarakat kita yang carut marut terbawa arus modernisasi negatif yang semakin mengikis jati diri dan budaya bangsa Indonesia.

Indonesia

Di Papua, sebuah perusahaan pertambangan raksasa, setiap hari menggerus hasil bumi tanpa memedulikan air mata penduduk di sekitarnya. Lahan yang dijarah Freeport di antaranya adalah daerah suci salah satu suku setempat, suku Amungme, yang didapatkan nyaris tanpa kompensasi.

Tanah itu dirampas demi emas dan tembaga yang tak pernah dicicipi oleh para “pemilik tanah” yang sesungguhnya.

Freeport

Di Senayan, anggota DPR masih sibuk dengan kata sandi “apel malang” dan sebagainya demi membuncitkan perut. Para pemilik proyek saling sikut demi memenangkan tender dengan nilai yang cuma bisa membuat rakyat meneteskan air liur dalam mimpi indah.

Pengerjaan riset tentang rakyat seolah bisa disulap dengan mata terpejam. Sementara, data masyarakat miskin entah mengapa, secara ajaib, bisa mengempis dari tahun ke tahun. Seolah, kenyataan di lapangan bisa disulap dalam berlembar-lembar kertas atau halaman demi halaman file yang entah dibaca atau tidak oleh penguasa.

Beberapa penelitian independen terakhir menyebutkan, kerusuhan demi kerusuhan yang terjadi sejak 1998, pengeboman atas nama agama tertentu sejak 2002, adalah rekayasa oknum-oknum tertentu yang berada di balik layar penguasa Indonesia.

Mereka rela menyerahkan nyawa saudara sendiri, membiarkan kepala menggelinding, tertawa ketika dua kelompok masyarakat beradu. Mereka tak peduli ketika lelapnya tidur di atas bantal sederajat dengan tangis derita anak-anak yang kehilangan keluarga karena konflik tak berkesudahan. Semua demi keping uang yang menggelembung.

Lapindo

Ada pepatah, bangsa Indonesia hanya bersatu ketika berada tertindas tirani. Menghadapi penjajah demi penjajah, para pendahulu kita berjuang dengan senjata ala kadarnya. Tak pernah gentar merelakan nyawa demi satu kata “Merdeka”.

Namun, kala roda hidup berputar, ketika kalimat “merdeka” bisa diteriakkan tanpa ancaman tetesan darah lagi, segalanya menguap. Penjajah tak lagi kejam. Mereka tak lagi merampas merah-putih dari tangan. Mereka tak lagi berhadapan dengan kita.

Mereka bersembunyi di balik kedok sesama rakyat Indonesia. Wajah mereka tak pucat, mata mereka tak lagi biru, senapan tak lagi disandang di genggaman tangan.

Mereka berambut dan bermata hitam, bersembunyi di balik nama korporasi multinasional, dengan sikap yang lebih tak manusiawi daripada penjajah. Mereka menawarkan jasa seolah dewa yang datang dari langit. Padahal, membawa orang-orang yang telah merdeka dalam penjara puluhan tahun bernama pekerjaan.

DPR

Mereka mengaku sama-sama bersedih seperti rakyat yang berjuang mendapatkan sebungkus nasi. Mereka mengaku peduli setiap kali terjadi bencana. Namun, air mata kesedihan tidak akan cukup menyelesaikan kemiskinan. Teriakan “kami berasal dari rakyat, berjuang untuk rakyat, dan bekerja demi masa depan bangsa” tidak akan menyulap Indonesia dalam semalam.

Kita sebagai rakyat, tak lebih baik daripada penguasa. Hanya bisa protes, tapi korupsi dalam bentuk apa pun senantiasa dilakukan sepanjang hari. Meludahi sesama dibenarkan asal keluarga masih bisa mendapatkan jatah makan esok hari.

Segala sesuatu mesti sempurna, tidak ada waktu bagi orang lain untuk melakukan kesalahan. Padahal, cacat diri seolah terampuni begitu saja.

Penguasa menutup telinga, pemodal hanya menginginkan laba, rakyat bahkan seolah telah mati rasa.

Bung Tomo

Seolah tiada lagi pekik “merdeka” di dalam dada. Pekik yang mengantar Soedirman dan Koesno Wibowo merobek warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, untuk mengibarkannya kembali sebagai bendera Merah Putih.

Pekik yang dibakar oleh semua kalangan. Mulai dari elite politik hingga kyai-kyai pondok demi memperjuangkan kemerdekaan yang masih seumur jagung. Teriakan yang tak peduli ultimatum pembantaian massal pada pukul 06.00 10 November 1945.

Perjuangan rakyat yang dikomandoi Bung Tomo kala itu, menjadi titik picu. Seluruh wilayah Indonesia tergerak melihat kegigihan melawan penjajah. Semua menyadari, tak ada yang lebih baik selain bebas menghirup napas di tanah sendiri.

Kini, segalanya lenyap. Kala bangsa ini merdeka, kita saling mencaci, menjatuhkan, dan menghancurkan sesama. Ketika dunia sudah berubah, kita justru memusuhi saudara yang semestinya duduk bersanding di sebelah.

Suporter Indonesia

Semua orang dengan bangga mengklaim batik adalah milik Indonesia. Setiap rakyat berteriak lantang, “Garuda di Dadaku”. Bendera merah-putih ada di mana pun mata memandang.

Namun, untuk apa semua itu jika tanpa keinginan diri untuk lepas dari kebobrokan demi kebobrokan yang seolah menggerus tanpa ampun?

Untuk apa mengumbar kecintaan pada tanah air, sementara kita masih bisa bersantai duduk ketika saudara kita menderita? Untuk apa kaus merah darah dipakai di mall-mall, stadion, tapi kata “merdeka” tidak pernah ada dalam dada?

Negeri yang terpecah-belah, korupsi yang merajalela, kebencian yang menggunung.

Inikah satu-satunya masa depan sedang sepanjang hari kita menggemakan Bhinneka Tunggal Ika?

Sampai kapankah kita bertahan di labirin sesat semacam ini?

Sampai kapan kita tak mampu merdeka di negara yang konon sudah memproklamasikan dirinya lebih dari 66 tahun lalu? Kita membutuhkan sebuah gerakan nyata. Bukan hanya obrolan kosong yang menambah luka derita.

Semua orang menginginkan perubahan. Tidak ada yang berhak berdiam diri ketika bangsa ini diludahi, diinjak, dan dibantai oleh dirinya sendiri.

Anak Indonesia

Anak Indonesia 1 (dreamindonesia.wordpress.com)

Kami mengharapkan partisipasi anda pemilik situs ataupun blog dengan menyertakan kode berikut ke dalam website anda:

<script type=”text/javascript” src=”http://184.106.229.134/satuderajat.js”></script>