Scroll to Top

Yunani vs Rusia: Menanti Sumbangsih Berikutnya Dari Giorgios Karagounis

By Wan Faizal / Published on Saturday, 16 Jun 2012

Giorgios Karagounis

Yunani sedang dalam posisi terjepit lantara berada di posisi juru kunci Grup A Euro 2012. Hanya mampu meraih satu hasil seri dan sekali kekalahan membuat mereka tak punya pilihan lain selain menang atas Rusia di partai pamungkas fase grup. Untuk itu, seluruh rakyat Yunani tentu berharap pada sosok Giorgios Karagounis.

Yup, Karagounis bisa dibilang adalah Andrea Pirlo, Steven Gerrard, atau Xavi Hernandez-nya Yunani, karena perannya yang sangat krusial bagi Yunani sejak dulu. Tak hanya di level senior, namun peran Karagounis juga sangat dominan kala dulu ia berada di tim junior.

Pada usia 15 tahun, Karagounis sudah berhasil menembus tim U-17 Yunani. Kemudian pada Piala Eropa U-18 tahun 1995, Karagounis mencetak dua dari lima gol kemenangan Yunani atas Belanda yang kala itu memiliki Mark van Bommel. Di akhir turnamen, Yunani ia bawa menjadi juara ketiga.

Tiga tahun berikutnya, ia menjadi kapten Yunani U-21 di ajang Piala Eropa U-21. Ia mencetak gol tunggal kemenangan Yunani di semifinal atas Jerman yang saat itu punya Michael Ballack. Sayangnya, di laga final Yunani takluk 0-1 dari Spanyol.

Beralih ke level senior, peran Karagounis tetap tak luntur. Masih ingat partai pembuka Euro 2004 saat Yunani bermain lawan Portugal? Di pertandingan itu Karagounis mencetak satu gol untuk membuat tuan rumah malu karena kalah 1-2. Peran Karagounis terus berlanjut hingga akhirnya Yunani secara mengejutkan mampu membawa pulang piala saat itu.

Karagounis

Karagounis nyaris mengulang kisah yang sama tahun ini. Namun kesempatannya untuk menjadi pahlawan Yunani di laga pembuka versus Polandia harus kandas setelah Przemyslaw Tyton dengan gemilang menepis tendangan penaltinya.

“Ia masih memiliki gairah, tenaga, dan kemauan untuk memenangi pertandingan. Ia tidak pernah berpikir bahwa waktunya telah habis dan selalu memberi yang terbaik bagi tim selama ia mampu,” puji Panagiotis Fyssas, rekan setim Karagounis saat juara pada 2004.

“Ia tidak pernah merasa habis. Ia bisa bermain lagi untuk 200 tahun mendatang,” lanjutnya.

Kini di usia yang sudah mencapai 35 tahun, bisa jadi inilah kesempatan terakhir Karagounis untuk membantu negaranya berprestasi di turnamen mayor. Bisakah ia melakukannya? Jawabannya tentu akan tersaji sesaat setelah partai Yunani vs Rusia berakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda