Scroll to Top

Wanita Sering Gunakan Emoticon dalam Berkirim Pesan

By Ilham Choirul / Published on Saturday, 13 Oct 2012

sms

Dalam berinteraksi lewat pesan pendek (SMS atau aplikasi chatting), wanita lebih banyak memakai emoticon dibanding pria. Emoticon dijadikan sebagai bentuk ekspresi hati. Sementara untuk pria, mereka cenderung memakai simbol-simbol grafis yang lebih besar untuk menunjukkan ekspresi dibanding emoticon.

Studi dari Rice University menunjukkan, emoticon dipakai untuk mengomunikasikan ungkapan nonverbal yang mungkin tidak bisa dijangkau dengan pesan pendek. Pesan pendek juga memiliki keterbatasan untuk menjelaskan maksud  ucapan secara lebih panjang seperti halnya email atau blog. Oleh karena itu, emoticon dianggap bisa mewakili sebagian maksud pengirim pesan yang bisa dipahami bersama dengan penerima.

Emoticon merupakan  simbol grafis yang memadukan tanda baca dan huruf untuk mewakili ekspresi wajah. Biasanya dipakai untuk menunjukkan mood seseorang. Emoticon membantu komunikasi dalam bentuk tulisan dan bisa memperjelas pesan yang  mungkin disalahartikan.

Dalam studi ini, peneliti mengamati sekitar 124 ribu pesan pendek dari ponsel pintar pada sejumlah pria dan wanita yang berkomunikasi dengan teks selama enam bulan. Relawan diberikan iPhone dan meeka bebas melakukan kegiatan apa pun selama masa penelitian. Mereka tidak pernah diberitahu jika aktivitas berkirim pesan pendek akan mendapat pengawasan.

Hasilnya, semua peserta mengaku memanfaatkan emoticon dalam berkirim pesan pendek meski frekuensinya tidak sering. Ada empat persen pesan pendek dari relawan yang minimal ada satu emoticon yang disertakan. Dan, wanita lebih banyak memanfaatkan emoticon dibanding pria. Mekipun jumlah emoticon mencapai puluhan ekspresi, 70 persen pria dan wanita rata-rata memakai emoticon sedih, senang, dan sangat senang.

“Texting tampaknya tidak memerlukan konteks sosio-emosional sebanyak sarana komunikasi nonverbal lainnya. Bisa jadi karena kesederhanaan SMS dan komunikasi singkat, yang menghilangkan beberapa tekanan yang melekat dalam jenis komunikasi tanpa tatap muka lain, seperti email atau blog, “kata Philip Kortum, asisten profesor psikologi di Rice University, seperti dikutip Times of India.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda