3 Tradisi Upacara Kematian di Indonesia

rambu solo

Di samping memiliki kekayaan budaya yang sifatnya menghibur, Indonesia juga mempunyai budaya yang ditujukan untuk pengingat kematian. Masyarakat setempat masih memegang tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang meninggal atau untuk membantu arwah agar selamat dalam menjalani kehidupan setelah kematian.

Setdaknya, ada tiga budaya terkait kematian yang bisa ditemukan. Dikutip dari Tourism News, berikut ini ulasannya:

  1. Upacara Rambu Solo. Pada tradisi ini, dilakukan upacara pembekalan dan persembahan yang ditujukan pada orang yang meninggal agar lancar menuju perjalanan ke alam roh. Budaya yang masih dipegang kuat masyarakat Toraja, Sulawesi Selatan, ini, juga menganggapnya sebagai acara penyempurna kematian. Masyarakat percaya, orang yang meninggal segera bertemu dengan leluhurnya  dan hidup abadi. Orang yang mati akan menuju tempat tersebut melalui Puya, yatu sebuah peristirahatan.
  2. Upacara Brobosan. Kalau upacara yang satu ini bisa ditemui di Jawa Timur. Upacara ini dilakukan dengan cara semua anggota keluarga dari orang yang meninggal, berjalan mengitari bawah keranda jenasah yang diangkat. Mereka mengitari sebanyak tiga kali untuk menghormati jasad yang hendak dibawa ke liang lahat dan dikuburkan.
  3. Upacara Saur Matua. Tradisi ini ditemui di lingkungan masyarakat Batak. Saur Matua adalah upacara penghormatan kepada orang yang meninggal bahwa mereka telah berhasil mendidik putra-putrinya sehingga mampu menikah dan berumah tangga. Sehingga, upacara ini juga hanya diadakan bila semua anak-anak dari orang yang meninggal telah menikah semuanya. Saat ritual ini dilakukan, tangan orang tua yang wafat tangannya ditaruh di samping badan dan bukan di dada

Komentar Anda

Leave A Response