Scroll to Top

Dongeng Grimm: Sisi Lain dari Cerita Anak Terpopuler

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 20 Dec 2012

Dongeng Grimm

Apa yang pertama kali terlintas dalam benak ketika mendengar kata ‘Dongeng Grimm‘ atau ‘Grimm Bersaudara’? Mungkin pikiran langsung melayang pada Hansel dan Gretel yang mengikuti jejak remah roti untuk pulang ke rumah. Atau, Joringel yang membawakan mawar merah darah untuk menyelamatkan kekasihnya, Jorinda, dari kutukan nenek sihir.

Mungkin pula kita berimajinasi jauh ketika membayangkan tentang Rapunzel, gadis cantik berambut pirang yang tinggal di menara bertingkap satu; dan memiliki rambut demikian panjang hingga mampu digunakan pangeran tampan memanjat menara.

Mustahil pula tak mengenal Cinderella dengan sepatu kacanya, Pangeran Katak, dan Putri Salju. Nama-nama ini juga sangat akrab di telinga kita. Bahkan, bisa jadi  kini kita tengah mengisahkan kisah-kisah tersebut pada anak atau adik kecil tersayang.

Ya, kisah-kisah ini, tercantum dalam kumpulan dongeng yang disusun oleh Grimm Bersaudara, Jacob dan Wilhelm Grimm. Kedua bersaudara ini, mengumpulkan 210 cerita yang kemudian diriilis dalam dua jilid (dimulai pada 1812).

Jika kita membayangkan bahwa kisah-kisah yang tertuang dalam Dongeng Grimm Bersaudara ‘mulus-mulus saja’, kita keliru. Kisah-kisah dalam Dongeng Grimm telah disunting sedemikian rupa untuk melenyapkan unsur-unsur kekerasan yang ada di dalamnya. Sebelumnya, kisah-kisah ini terlalu vulgar untuk dibaca oleh anak-anak.

Sebagai contoh, dalam kisah Brother and Sister (Kakak Beradik Yang Rukun). Dalam versi asli kisah ini, nenek sihir dan putrinya yang menyamar sebagai permaisuri, dihukum dengan dibawa masuk ke hutan. Sang putri nenek sihir, tewas setelah tubuhnya dirobek-robek binatang buas. Sementara ibunya, dibakar hidup-hidup. Kisah ini, sampai ke tangan kita dengan perubahan drastis. Keduanya hanya mendapatkan hukuman berat di pengadilan.

Masih banyak sisi lain dari kisah-kisah dalam dongeng Grimm. Semisal, kemungkinan bahwa kisah Putri Salju benar-benar nyata. Seorang peneliti dari Jerman, Eckhard Sander, menyebutkan bahwa kisah ini terinspirasi dari Margarete von Waldeck, seorang istri bangsawan yang hidup bersama anak-anak yang bekerja di tambang. Anak-anak ini, karena kerja berat dan kekurangan nutrisi, bertubuh mini, dan disebut cebol oleh kalangan masyarakat saat itu.

Apa pun sisi gelap yang melatarbelakangi kisah-kisah dalam Dongeng Grimm, kini, cerita-cerita tersebut, dengan modifikasi sedemikian rupa, telah menginspirasi berbagai kalangan. Menjadi bacaan ‘setengah wajib’ bagi anak-anak. Tinggal pintar-pintarnya kita dalam mengambil hikmah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda