Scroll to Top

Selamat Natal: Kilas Balik 2012 dan Hitam Putih Indonesia

By Fitra Firdaus / Published on Monday, 24 Dec 2012

Tahun 2012 hampir berlalu. Natal sebentar lagi tiba, Google pun tak lupa mengucapkan Selamat Natal di logonya. Sejenak kita merekam kembali apa yang terjadi sepanjang tahun di Indonesia, negeri tercinta. Hitam putih yang ada di dalamnya. Susah senang dan manis pahit yang telah dilalui.

Di bidang politik, tahun 2012 adalah tahunnya kaum muda. Lihatlah Jokowi – Ahok yang mampu mencuri perhatian publik dan menjadi pasangan terpilih Gubernur-Wakil Gubernur Jakarta hingga lima tahun mendatang. Kedekatan pada rakyat, keterbukaan, dan optimalisasi kerja adalah kunci keberhasilan mereka.

Energi yang ditularkan Jokowi-Ahok membuat mata rakyat terbuka, bahwa di dunia politik yang selama ini dikenal kelam dan penuh kelicikan, ada semangat pembaruan. Ada peluang bahwa mimpi mendapatkan pemerintahan bersih yang selama ini cuma ada dalam angan-angan, bisa mewujud ke alam nyata.

Namun, hitam dan putih kadang demikian berdekatan. Bahkan berhimpitan. Sepanjang tahun pula kita menyaksikan para politisi muda terjaring kasus hukum. Setelah Muhammad Nazarudin dan Angelina Sondakh, akhir tahun ini giliran Andi Alfian Malarangeng. Idealisme kala masih berada di bangku kuliah, masih di luar lingkaran kekuasaan, kadang bisa luntur oleh benturan uang dan kepentingan.

Di bidang olahraga, tahun 2012 kita menyaksikan kedigdayaan Spanyol untuk kesekian kalinya. Setelah puluhan tahun berjuluk raja tanpa mahkota, kini gelar demi gelar seperti antre ingin dipeluk La Furia Roja. Bahkan, masa depan Spanyol pun terlihat cerah; dengan bertaburnya bintang-bintang muda dari hasil pembinaan klub setempat.

Kontras dengan Spanyol, tahun 2012 adalah salah satu tahun terburuk bagi Indonesia. Tahun ini kita lebih ‘mengenal’ nama pengurus sepakbola daripada nama pemain yang berlaga di ISL atau IPL. Konflik PSSI-KPSI kemungkinan masih akan panjang, sementara masyarakat seperti ‘terdidik’ untuk terbelah.

Membenci kelompok yang berseberangan. Menimpakan kesalahan pada salah satu kubu. Meski tipis, harapan tak boleh reda. Melihat timnas Indonesia yang kokoh bukanlah mimpi. Biarlah konflik ini menjadi pembuka tabir, siapa yang benar-benar mencintai sepakbola.

2012 berlalu, 2013 hadir. Masalah yang menggerus negeri ini memang belum selesai. Bukan berarti kita harus menyerah, lantas antipati. Bukankah sejatinya masalah akan selalu hadir dalam hidup ini? Hanya, ia berganti rupa. Dari yang ringan, ke arah yang lebih berat lagi. Tergantung sekuat apa seseorang, sebuah kelompok, atau sebuah bangsa. Semakin tangguh, maka semakin berat pula masalah yang tiba.

Maka, tak ada harapan lain yang lebih indah pada 2013, selain berharap, bangsa ini pada akhirnya bersatu. Benar-benar menyatu, tak mudah terpecah dalam kepentingan golongan, tak mudah mencari kambing hitam atas keterpurukan. Ketika menyatu itulah solusi hadir. Mimpi terbangun. Dan jalan menuju kehidupan yang lebih baik terbentang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda