Scroll to Top

Buruh Tangerang: Kasus Perbudakan di Pabrik Kuali Yuki Irawan

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 10 May 2013

Buruh Tangerang Kasus Perbudakan di Pabrik Kuali

Pabrik Kuali milik Yuki Irawan (41 tahun) di Tangerang membuat seluruh Indonesia terhenyak. Betapa tidak? Pabrik tersebut menyimpan cerita menyakitkan, ketika puluhan buruh harus hidup dengan cara diperbudak sang majikan: tanpa upah dan bekerja tanpa lelah. Banyak yang disiksa secara fisik.

Cerita seputar Pabrik Kuali tersebut demikian kelabu. Pabrik yang omset sebulannya mencapai 100 juta, mempekerjakan buruh  tanpa memberi upah. Setiap buruh yang masuk, harus merasakan barang-barang mereka dilucuti. Mulai dari dompet hingga handphone. Puluhan orang pun harus tidur dalam satu ruangan berluas 8×8 meter dengan alas tikar dan ruang pengap. Buruh-buruh ini dilarang bersosialisasi. Jika kerjanya lambat, akan dipukul atau diberi siksaan lain.

Seorang buruh bernama Bagas (22 tahun) mengaku belum mendapatkan hak selama enam bulan bekerja. “Jangankan Rp 1.000, Rp 1 pun saya belum pernah megang. “Saya bilang pinjam telepon, untuk menghubungi orangtua, pertama saya diajak masuk ke ruangannya. Ternyata sampai di sana saya malah dipukuli habis dan dibawa ke gudang,” tuturnya kepada Kompas.

Jam kerja di pabrik kuali ini sangat tidak manusiawi. Para pekerja harus memulai aktivitas pukul 05.30 hingga 22.00. Mereka juga cuma diberi makan dua kali sehari, setiap pukul 12.oo WIB (makan siang) dan pukul 18.00 WIB (makan malam) dengan lauk seadanya. Tidak jarang, mereka cuma mendapat sekali jatah makan.

Belakangan, juga ditemukan sebuah kuburan di pabrik kuali milik Yuki Irawan. Selidik punya selidik, makam tersebut adalah makam putri Yuki yang meninggal karena muntaber, ketika berusia tiga tahun.

“Yang jelas makam itu adalah makam dari putrinya Yuki yang meninggal tahun 1997 karena sakit muntaber,” kata  Rikwanto, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya.

Yuki Irawan sendiri kini harus menanggung semua perbuatannya. Polisi menjeratnya dengan berbagai pasal berlapis. Termasuk tidak adanya izin usaha industri, mempekerjakan buruh di bawah umur, tindak perdangangan orang, dan menggelapkan barang para buruh.

Foto: Kompas/ Lasti Kurnia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda