Puasa Rajab Hukum dan Keistimewaannya

Banyak yang meyakini, menjalani puasa Rajab akan mendapatkan keutamaan yang demikian luar biasa. Konon, yang mengingatkan orang lain tentang puasa Rajab, akan mendapatkan pahala layaknya orang beribadah 80 tahun. Yang menjalankan puasa, juga mendapatkan keistimewaan sedemikian rupa. Benarkah ucapan-ucapan tersebut?

Sejak pertengahan bulan Mei 2013, kalender Qomariyah memasuki bulan Rajab. Banyak di antara kita yang menerima pesan dari berbagai jejaring sosial tentang keistimewaan, jika seseorang mau memulai puasa pada bulan ini. Di antaranya, seseorang yang menjalani puasa Rajab selama 10 hari, akan mendapatkan segala yang diinginkan. Bahkan, yang mengingatkan saja, mendapatkan pahala setara ibadah 80 tahun.

barang siapa puasa 2 hari diawal Rajab seakan ibadah 2 tahun dan barang siapa mengingatkan orang lain tentang ini seakan ibadah 80 tahun …”

Rasulullah Saw. bersabda, “Rajab adalah bulan yang mulia. Allah melipatgandakan kebaikan di dalamnya. Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab, sama seperti puasa setahun. Barangsiapa puasa tujuh hari, tujuh pintu neraka Jahanam dikunci darinya. Barangsiapa puasa delapan hari, delapan pintu surga dibuka untuknya. Barangsiapa puasa sepuluh hari, apa pun yang dimintanya kepada Allah pasti diberi. Dan barangsiapa yang puasa lima belas hari, seorang malaikat menyeru di langit; Sungguh dosamu yang lalu telah diampuni, maka mulailah lakukan amal baik. Dan barangsiapa yang menambah, Allah pun akan menambahnya.”

Dengan menggiurkannya pahala yang dijanjikan, tidak heran kemudian banyak orang yang berbondong-bondong untuk mengerjakan puasa bulan Rajab. Apalagi ketika informasi, entah benar atau salah, begitu mudah diterima di dunia maya. Masalahnya, benarkah pahala puasa Rajab sedemikian agungnya?

Dari segi logika, agak aneh seseorang yang hanya mengingatkan puasa, mendapatkan keberkahan dengan mendapatkan pahala layaknya beribadah 80 tahun. Sesuatu, yang terlalu mudah. Lalu, bagaimana sebenarnya kadar kebenaran riwayat tentang Puasa Rajab?

Dijelaskan oleh Syaikh Ibny Taimiyah bahwa, “Adapun puasa Rajab secara khusus, maka hadits-hadits (yang menerangkannya) semuanya dhaif (lemah), bahkan maudhu’ (palsu). Tidak ada ulama yang bersandar kepada hadits-hadits tersebut. Ini tidak termasuk dhaif yang boleh diriwayatkan dalam bab fadhail (keutamaan-keutamaan amal), tapi secara umum termasuk hadits-hadits maudhu yang dipalsukan.”

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan puasa Rajab dan shalat pada beberapa malamnya adalah hadits dusta yang diada-adakan (dipalsukan).”

Pada intinya, tidak ada keutamaan yang dimiliki bulan Rajab dibandingkan bulan-bulan haram lain (Muharram, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah) sehingga riwayat yang mengunggulkan keutamaan salat atau puasa pada bulan Rajab, derajatnya lemah. Kita tidak perlu ‘menjebakkan diri’ pada angan-angan mendapatkan pahala berlimpah dalam waktu singkat.

Akan halnya puasa-puasa sunnah yang sudah jelas riwayatnya, seperti puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, atau puasa lain, tetap bisa dikerjakan pada bulan Rajab. Yang dipermasalahkan di sini adalah, seseorang yang menjalankan puasa pada bulan Rajab dari sebuah keterangan/riwayat yang tidak kuat.