Scroll to Top

Christian Vieri: Si Bongsor Capocannonieri Musim 2002/2003

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 15 Sep 2011

Saking mudahnya berganti pasangan, dia diklaim telah memacari semua model Italia. Mulai dari Elisabetta Canalis hingga Melissa Satta pernah takluk dalam pelukannya. Inilah Christian “Bobo” Vieri, pencetak gol terbanyak Serie-A melalui sundulan kepala.

Badan bongsor adalah modal utama Vieri. Bek lawan pasti akan minder berhadapan dengannya. Belum lagi sundulan kepala dan kaki yang sama hebatnya.

Mengawali karier bersama Torino, Vieri sebenarnya sudah meroket ketika bergabung dengan Juventus pada musim 1996/1997. Saat itu, di usia 24 tahun, Vieri mampu mencetak 6 gol dalam 10 pertandingan di tingkat Eropa.

Namun, sepertinya Vieri ditakdirkan selalu bermain semusim saja di setiap klub. Demikian pula yang terjadi pada musim berikutnya. Vieri berlabuh ke Atletico Madrid, tim sekota Real Madrid. Klub ini menjadi klub ketujuh Vieri dalam tujuh musim karier profesionalnya.

Hebatnya, Vieri mampu menjadi pichichi, pencetak gol terbanyak La Liga, di musim pertamanya. Vieri mengemas 24 gol hanya dari 24 pertandingan! Penampilan impresifnya ini jelas membuat pelatih Italia saat itu, Cesare Maldini, ayah Paolo Maldini, terpikat.

Vieri menjadi tumpuan utama Italia di Piala Dunia 1998. Hasilnya luar biasa. Berkompatriot dengan Roberto Baggio, Bobo bisa mengoleksi 5 gol dari 5 pertandingan. Meskipun Italia tertahan di perempat final oleh drama adu penalti dengan sang juara, Prancis, nama Vieri semakin membubung tinggi.

Klub ibukota, Lazio, memboyongnya kembali ke Italia. Vieri menjadi bagian rencana Sergio Cragnotti, sang presiden saat itu, untuk menghadiahkan scudetto demi Tim Biru Langit. Vieri kembali tampil gemilang. Sempat tak maksimal di dua laga awal, Bobo mengoleksi 12 gol di Liga. Lazio sempat menguasai klasemen sebelum akhirnya disingkirkan secara menyakitkan oleh AC Milan.

Musim berikutnya, banyak yang mengira Vieri akan bertahan di Lazio. Nyatanya tidak. Sang taipan dari Internazionale, Massimo Moratti berani membayar mahal untuk memboyong Bobo ke Milan. Hasilnya, saat itu Vieri memecahkan rekor transfer dunia (32 juta poundsterling).

Musim 1999/2000, semua orang menanti Ronaldo-Vieri memberikan gelar ke-14 bagi Internazionale. Namun, dua penyerang utama mesti berurusan dengan cedera yang bergantian. Musim berikutnya, untuk pertama kalinya Vieri bertahan di sebuah klub dalam dua tahun; dan kelak rekor ini bertambah. Vieri berbaju hitam-biru selama tujuh musim. Tragisnya, selama itu pula ia tidak bisa memberikan gelar juara Liga Italia bagi Nerazzuri.

Kejadian paling menyakitkan adalah pada musim 2001/2oo2. 22 gol Bobo mampu mengantarkan Internazionale menjadi pemuncak klasemen hingga pekan 33. Namun, di partai penentuan, mereka terhempas dan mesti menyerahkan gelar juara pada Juventus.

Musim berikutnya, 2002/2003, meskipun lagi-lagi Inter gagal menjadi juara (runner-up liga dan terpaut 7 angka dari Juventus), Vieri boleh berbangga. Ia menjadi capocannonieri dengan mencetak 24 gol hanya dari 23 penampilan.

Musim-musim berikutnya, seiring dengan usia yang menua, Vieri tak tajam lagi. Sempat bermain untuk AC Milan, Monaco, dan Fiorentina, Bobo menutup karier bersama Atalanta.

Di tingkat internasional, Vieri mengilap dalam dua Piala Dunia, 1998 dan 2002. Ia total mengemas 9 gol dari 9 penampilan. Sayang, ia tidak ikut ketika Italia menjadi runner-up Euro 2000 karena cedera. Demikian pula ketika Italia menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda