Scroll to Top

Usai Kena Stroke, Seseorang Bisa Memiliki Kemampuan Tidak Lazim

By Ilham Choirul / Published on Wednesday, 31 Jul 2013

otak

Usai mendapakan serangan stroke, sorang pria asal Toronto, Kanada, mengaku bisa merasakan aneka warna di sekelilingi. Warna yang dilihatnya seolah memiliki citarasa sebagaimana seseorang mencicipi makanan. Kemampuan mencicipi warna ini memang di luar kebiasaan pada umumnya. Namun, dalam dunia medis kenyataan seperti ini diakui keberadaannya dan dinamakan peristiwa sinestesia.

Sinestesia bisa dimaknai dengan kondisi seseorang yang bisa “melihat” atau “mendengar” hal-hal yang secara normal tidak mampu dilihat atau didengar  pada kebanyakan manusia. Contohnya adalah selera atau bau. Biasanya sinestesia terjadi setelah seseorang mengalami cedera di bagian otak. Kasusnya pun sangat jarang terjadi.

Pada kasus pria di Toronto ini, dia mulai bisa merasakan warna setelah 9 bulan usai mengalami stroke. Pria yang enggan disebut namanya ini menuturkan, dia merasakan warna biru seperti halnya rasa raspberry. Namun, rasa biru seperti raspberry ini hanya dirasakannya pada kepekatan biru tertentu yang lebih spesifik. Temuan adanya sinestesia ini dimuat dalam  jurnal Neurology yang studinya dilakukan rumah sakit St Michael di Kanada.

Terkait kasus sinestesia, Dr Tom Schweizer, direktur Neuroscience Research Program di rumah sakit Li Ka Shing Knowledge Institute, mencoba menganalisa otak manusia memakai MRI untuk mengetahui penyebab munculnya kemampuan “istimewa” itu dibanding mereka yang tidak mengalami sinestesia. Studi ini melibatkan enam pria yang berusia sama dan dengan tingkat pendidikan setara. Mereka diamati aktivitas otaknya.

Semua  peserta diminta melakukan hal yang berbeda termasuk mendengarkan lagu tema James bond dan solo euphonium. Dari situ ditemukan, orang yang mengalami sinestesia terdapat aktivitas di bagian thalamus, hippocampus, dan korteks pendengaran  saat mendengar lagu James Bond. Bagian korteks pendengaran berperan dalam menerima gelombang suara. Hippocampus berperan dalam memori dan navigasi spasial. Sementara thalamus, berguna layaknya switchboard.

“Daerah-daerah otak yang aktif saat mendengar tema James Bond benar-benar berbeda dari daerah yang kita harapkan untuk terlihat aktif, ketika orang mendengarkan musik,” kata Schweizer, seperti dikutip Huffington Post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda