Scroll to Top

Pemain Asing di ISL Dilarang Tampil untuk Timnas Negaranya?

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 09 Dec 2011

Liga Super Indonesia tidak hanya terancam eksistensinya oleh kekuatan PSSI. Para pemain asing yang berkompetisi di liga “ilegal” tersebut juga bernasib serupa. Mereka kemungkinan besar tak bisa memperkuat negaranya karena bermain dalam kompetisi yang tidak resmi.

Safee Sali

Bahaya pun langsung menyeruak pada para pemain kunci klub-klub ISL. Sebagai contoh, Mohammad Safee Mohammad Sali atau yang lebih akrab dipanggil dengan Safee Sali. Kapten Pelita Jaya ini tak bisa berseragam timnas Malaysia karena klubnya yang dimiliki “keluarga” Bakrie, memilih untuk berada di ISL.

Kasus yang sama akan menimpa Keith Kayamba Gumbs. Penyerang andalan Sriwijaya FC ini adalah kunci negara kecil Saint Kitts & Nevis. Bersama timnas negara yang tergabung di zona CONCACAF ini, Gumbs tampil 131 kali dan mencetak 47 gol.

Ada juga Zah Rahan Krangar. Siapa pun penggemar Liga Super Indonesia pasti tahu sepak terjang playmaker andal ini. Baik di Sriwijaya FC masa Rahmad Darmawan atau di Persipura era Jacken F. Thiago, Zah Rahan selalu tampil memukau.

Bahkan, banyak klub luar negeri yang berminat memboyong pemain timnas Liberia ini. Jika PSSI menerapkan aturan semua pemain asing di liga ilegal tak bisa bermain untuk timnas, mungkinkah Zah Rahan akan pergi ke klub IPL?

Djohar Arifin, ketua umum PSSI, menyebutkan bahwa peraturan ini terdapat dalam Statuta FIFA. Tidak hanya pemain asing yang berlaga di kompetisi ilegal, hal ini juga berlaku pada pemain lokal untuk timnas Garuda.

Masalahnya, PSSI sepertinya mendua untuk urusan ini. Setidaknya, dalam laga Indonesia Selection vs LA Galaxy beberapa waktu lalu, ada beberapa pemain yang merumput di ISL yang dipanggil.

Termasuk, Cristian Gonzales yang dilarang klubnya, Persisam Samarinda, untuk tampil bersama timnas. Walaupun bukan termasuk laga resmi, kita bisa melihat di antaranya, Greg Nwokolo, Oktovianus Maniani, Patrick Wanggai, Firman Utina, dan  Victor Igbonefo.

Djohar Arifin juga mesti waspada karena sekitar 65% pemain timnas Indonesia berasal dari klub-klub ISL.

Jadi, beranikah PSSI menerapkan hukuman yang sama untuk pemain asing dan lokal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda