Scroll to Top

Pria Lebih Gampang Diajak “Cinta Satu Malam” Dibanding Wanita

By Ilham Choirul / Published on Wednesday, 04 Jan 2012

“Cinta satu malam” menjadi istilah yang khas dalam seks bebas. Dua insan beda jenis dan cenderung baru kenal, melakukan seks dengan singkat. Artinya, seks tersebut tanpa dilandasi cinta dan hanya memburu untuk kepuasan nafsu semata. Sekarang ini, seks tidak sehat tersebut sudah sering terdengar dari segala penjuru wilayah.

Young Couple in Bed

Sebuah penelitian oleh Nicolas Gueguen, psikolog dari Perancis, dikatakan, pria adalah sosok yang paling gampang tergoda dengan rayuan wanita jika ada kesempatan untuk bercinta. Banyak pria yang tidak kuasa menolak “ajakan” wanita. Pria tersebut tidak memandang apakah hatinya ada chemistry atau tidak pada wanita itu. Yang penting, dia melayani si wanita untuk bercumbu dengan segera.

Namun, hasil ini beda terhadap wanita. Wanita yang tergoda untuk melakukan one night stand cenderung memilih mangsanya terlebih dulu. Dia menilai pria dari berbagai sisi yang dianggapnya menarik. Baik itu dari ketampanannya, pesonanya, atau bahkan duitnya. Jika sudah sesuai, baru melancarkan aksi untuk merayu.

“Pria tampaknya lebih bersemangat untuk aktivitas seksual daripada wanita. Pria juga lebih bersedia untuk pergi ke apartemen seorang wanita asing hanya untuk tidur dengannya,” kata Gueguen, seperti dikutip Times of India.

Gueguen membuktikan ini dengan melakukan percobaan. Saat seorang wanita cantik memanggil dan merayu  pria, sekitar 93 persen pria mau mampir ke apartemen sang wanita dan 83 persen di antaranya setuju untuk melakukan hubungan seks instan.

Percobaan serupa juga dilakukan pada wanita. Hasilnya jauh berbeda. Para wanita ini 80 persen lebih memilih ajakan untuk minum bersama pria. Hanya saja, ada 60 persen wanita yang setuju melanjutkan dengan “hubungan lebih dalam” usai acara minum itu.

“Pria adalah makhluk yang lebih seksual. Bagi pria, seks lebih untuk mendapatkan kesenangan. Sementara buat wanita, perlu asosiasi untuk membangkitkan emosi seks,” ujar  Mansi Hassan, seorang psikolog klinis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda