Scroll to Top

Pesepakbola Indonesia Yang Pernah Berlaga di Eropa dan Amerika Selatan

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 24 Jun 2011

Sedikit sekali pemain Indonesia yang mendapatkan kesempatan bertarung di liga-liga Eropa atau Amerika Selatan. Bahkan, biasanya para pemain keturunan Indonesia di Eropa akan memilih menjadi warga negara setempat demi kemudahan bermain di tanah para raksasa sepakbola. Sementara itu, lirikan ke Amerika Selatan sangat jarang dilakukan sebelum ada proyek SAD.

 

1. Kurniawan Dwi Yulianto

Si Kurus, demikian ia biasa dipanggil, bersama teman-temannya dalam PSSI Primavera pernah berlatih di Italia. Dari sinilah bakatnya dilirik oleh Sampdoria Primavera (junior). Kurniawan membela tim junior Il Samp selama setahun. Kemudian, ia ditarik oleh FC Luzerne dari Swiss.

Pada musim pertamanya, Kurni berhasil tampil memukau. Hingga saat ini ia tercatat sebagai satu-satunya pemain Indonesia yang bisa mencetak gol dalam ajang liga antarklub Eropa, Piala Intertoto.

Namun, musim berikutnya, faktor homesick, cedera, kehidupan malam, dan statusnya sebagai pemain Non-Eropa (setiap klub dibatasi memiliki pemain non-eropa), membuat Kurniawan balik kampung ke Indonesia.

Kurniawan saat ini tercatat sebagai pemain kedua yang mencetak gol terbanyak bagi timnas. Rekornya telah dilampaui oleh sang junior, Bambang Pamungkas.

 

2. Bima Sakti

Bima Sakti adalah salah satu pemain PSSI Primavera. Sama seperti Kurniawan, ia dilirik Sampdoria Primavera saat berlatih di Italia. Kemudian, ia hijrah ke klub Swedia, Helsingborg IF.

Bima cuma bertahan setahun di klub tersebut. Ia kemudian kembali ke Indonesia dan bermain bersama Pelita Bakrie, seperti beberapa rekan PSSI Primaveranya. Sejak saat itulah Bima malang melintang di persepakbolaan nasional.

Sejak 2007, ia bergabung dengan Persema. Ketika Persema “membelot” dari LSI ke LPI, Bima ikut bertahan di klub Malang tersebut.

Di timnas, Bima Sakti tampil 58 kali dan selalu menjadi starter pada masa jayanya. Tendangan geledeknya menjadi andalan sang gelandang legendaris ini.

 

3. Kurnia Sandy

Seperti Bima dan Kurniawan, Kurnia Sandy ikut dalam program PSSI Primavera. Ia masuk ke Sampdoria Primavera dan dengan ketangkasannya, mampu merumput bersama tim senior.

Pada musim 1996/1997, Kurnia Sandy menjadi kiper keempat Sampdoria; prestasi membanggakan karena Bima Sakti dan Kurniawan gagal mendapatkan posisi yang sama seperti dirinya.

Bertahan semusim di tanah Azzuri, Kurnia Sandy kembali ke Indonesia dan merumput di Pelita Bakrie. Untuk urusan timnas, ia hanya bermain 18 kali; kontras dengan prestasinya di Italia.

 

4. Bambang Pamungkas

Setelah era Primavera, nyaris tidak ada pemain Indonesia yang datang ke Eropa. Bambang adalah perkecualian. Striker yang jago dalam urusan heading ini bergabung ke klub Belanda, EHC Norad. Ia mencetak 8 gol dari 10 pertandingan di Liga Belanda Divisi 3.

Bambang sempat menjadi pemain kesayangan di EHC dan dijuluki Peng-Peng atau Bengpeng (karena pelafalan yang salah dari Bambang, dan a dibaca e di Eropa).

Semusim di EHC, Bambang pulang ke Persija dan menjadi salah satu striker terproduktif di Liga Indonesia. Ia kemudian merumput bersama Selangor FC di Liga Malaysia.

Bambang sempat menjajaki ujicoba dengan klub Australia, Wellington FC, namun gagal.

Kala kembali ke Indonesia untuk kedua kalinya, Bambang tetap menjadi goleader paling mengerikan yang dimiliki Persija.

Di timnas, Bambang menjadi pencetak gol terbanyak dengan 38 gol. Ia juga menjadi top skorer Piala Tiger 2002.

 

5. Irfan Bachdim

Irfan Bachdim yang ayahnya pernah merumput bersama Persema, memulai karier di tanah Belanda. Ia pernah berlatih di tim junior Ajax Amsterdam. Kemudian, ia tampil bersama FC Utrecht di Liga Belanda, meski hanya sekali bermain.

Irfan kemudian pindah ke HFC Haarlem pada 2009. Di sini, ia bisa bermain 19 kali dan mencetak 2 gol.

Seiring dengan keinginan kuatnya bergabung dengan timnas (dan ia bukan pemain naturalisasi), Irfan kemudian pindah ke Persema pada 2010.

Penampilan Irfan di timnas dimulai pada AFF Cup 2010. Ia mencetak dua gol dalam dua penampilan pertamanya. Namun, seiring perjalanan Indonesia ke final, Irfan gagal tampil sebaik awal debutnya.

Ia menjadi pilihan utama di Persema dan membuktikan ketajamannya di LPI, kompetisi yang menyempal dari PSSI dan diminta FIFA untuk dibubarkan atau melebur ke LSI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda