Scroll to Top

Real Madrid Memang Harus Bermain Defensif Menghadapi Barcelona

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 19 Jan 2012

Anda mungkin Madridista yang tak suka dengan gaya bertahan Jose Mourinho. Anda mungkin pula sosok pembenci The Special One yang menganggap kekalahan Madrid tadi pagi adalah legitimasi ketidakberhasilan Mou meramu strategi.

Jose Mourinho (1)

Anda mungkin juga seorang fans Barcelona yang akan berkata, inilah kemenangan sepakbola: tim yang lebih banyak menyerang, dialah yang menang. Real Madrid yang “memainkan” formasi sembilan bek di depan Iker Casillas, demikian sebut harian AS, seperti tidak mau memanfaatkan sumber daya pemain yang ada.

Kurang apa Real Madrid. Mereka memiliki Mesut Ozil yang memberi 5 assist dalam 3 pertandingan terakhir. Namun, pesulap Jerman duduk di bangku cadangan dan baru diturunkan ketika Barcelona sudah unggul moril.

Kurang apa pula lini depan Los Blancos yang bisa mengemas 61 gol di ajang La Liga, dan 11 gol hanya di empat pertandingan Copa del Rey? Mengapa lini depan setajam itu, seolah menumpul di depan Barcelona yang lebih agresif menyerang?

Bukan blunder Jose Mourinho yang menyebabkan kegagalan Real Madrid. Mou adalah seorang ahli taktik terdepan di dunia. Anda mungkin membenci strateginya. Namun, Mou hanya melakukan apa yang harus dilakukannya.

Menghadapi Barcelona, yang harus dilakukan adalah memenangi lapangan tengah. Bukan berarti Madrid akan bermain superofensif. Namun, lini tengah mereka harus lebih banyak merampas bola dari para gelandang Barcelona.

Inilah alasan Mourinho memasang tiga gelandang bertahan. Dengan Xabi Alonso, Lassana Diarra, dan Pepe yang didorong lebih ke depan (posisi asli Pepe adalah bek tengah) Mou ingin memacetkan aliran bola kepada Lionel Messi. Hasilnya sebenarnya ampuh.

Sepanjang pertandingan, kecuali sihir assist yang sangat brilian oleh sang mesiah Argentina, Messi cenderung tampil di bawah performa terbaiknya. Bukan berarti ia buruk, namun, karena tiga gelandang Madrid inilah yang mengunci mati-matian segala umpan yang mengarah pada sang nomor 10.

Mourinho sadar, bermain dengan taktik menyerang menghadapi Barcelona sama saja seperti berniat mati konyol. Ia bukannya tak mencoba strategi ini.

Laga di Piala Super Spanyol menjadi bukti. Saat itu, Madrid terlihat lebih mengimbangi, bahkan layak memenangi salah satu dari dua pertandingan Piala Super Spanyol. Namun, apalah arti menyerang habis-habisan jika pada akhirnya, skor lebih berbicara? Taktik ofensif Real Madrid tidak berbuah apa pun selain 5 gol dalam 2 pertandingan.

Hari ini, taktik Jose Mourinho setengah babak berhasil. Dalam 45 menit pertama, dominasi Barcelona tidak terbayar gol dan Lionel Messi masuk kamar ganti dengan garuk-garuk kepala tanda jengah.

Namun, babak kedua, strategi ini rusak karena kelalaian lini belakang. Dua gol Barcelona, suka tidak suka, terjadi karena kelengahan bek Real Madrid. Gol pertama karena Pepe tak bisa menjaga Puyol dengan baik dan gol kedua karena jebakan off side meleset.

Begitu Barcelona menyamakan kedudukan, mentalitas Los Blancos berantakan. Ada sebuah teori yang disebutkan Jose Mourinho sendiri, duel El Clasico menyebabkan sakit di kubu Real Madrid. Semakin banyak mereka kalah, memori itu semakin menghias di kepala. Terbobol berarti sangat fatal, apalagi ketika babak kedua baru berjalan 3 menit.

Di sisi lain, kemenangan demi kemenangan Barcelona, justru berimbas sebaliknya. Pasukan Josep Guardiola, meski sempat frustrasi, sudah tahu bagaimana rasanya tertinggal dan membalikkan keadaan. Baru Desember lalu mereka terkejut oleh gol di menit pertama dan membalas dengan tiga gol.

Jose Mourinho mengetahui, strategi menyerang bukanlah pilihan yang baik untuk mendapatkan hasil akhir 3 angka. Namun, laga kedua perempat final Copa del Rey minggu depan, adalah dilema tersendiri. Menang 1-0 (dengan asumsi bermain bertahan) tidak akan membuat Los Blancos lolos. Kemungkinan, Mou akan tetap memainkan tiga gelandang bertahan. Tapi, barangkali tak ada lagi duet Gonzalo Higuain-Karim Benzema yang dipasang di starting XI.

Mou membutuhkan dua pemain sayap yang bisa mengikis jarak 60 meter antara tujuh bek (empat bek plus tiga gelandang bertahan) dengan satu penyerang tunggal. Lagi-lagi, ada dilema baru. Mungkinkah Mou tetap memasang Cristiano Ronaldo? Penyerang ini mampu mencetak satu gol, tapi setelahnya seperti ikut duduk bersama pemain cadangan Real Madrid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda