Scroll to Top

Jose Mourinho Berseteru dengan Pemain dan Fans Real Madrid?

By Fitra Firdaus / Published on Monday, 23 Jan 2012

Laga Real Madrid vs Athletic Bilbao memasuki menit 84. Kala itu pendukung Real Madrid menyanyikan nama Jose Mourinho. Banyak sisi stadion yang menimpali dengan suitan tanda tak suka. Untuk pertama kalinya, ada kebulatan suara menentang sang pelatih asal Portugal dalam satu setengah musim rezimnya.

Jose Mourinho Sergio Ramos

Tidak terima kekalahan di El Clasico. Demikianlah yang terjadi di Santiago Bernabeu. Apalagi, cara bermain Real Madrid ketika menghadapi Barcelona 180 derajat berbeda dengan kebiasaan mereka. Kalau melawan 18 klub lain, Los Blancos bisa menguasai permainan dan melepaskan belasan tembakan, Jose Mourinho mengesampingkan hal ini khusus dengan El Barca. Ia berusaha memenangkan lini tengah, sempat berhasil, tapi gagal mempertahankan skor 1-0.

Kemenangan 4-1 atas Athletic Bilbao, dengan dua gol penalti Cristiano Ronaldo, belum cukup membayar kegusaran fans. Apalagi pertengahan pekan ini tim mereka akan bertandang ke Camp Nou, tempat yang tak pernah bersahabat sejak Pep Guardiola berkuasa.

Siulan ini mengingatkan kita pada “perseteruan panas” yang terjadi pada Jumat lalu, dalam sesi latihan pertama pasca kekalahan dari Barcelona.

Jose Mourinho datang untuk menganalisis keteledoran para pemain dan pembicaraan berakhir dengan perang kata-kata.
Ada banyak pemain yang terlibat dalam pembicaraan. Namun, tidak ada yang bersuara selantang Sergio Ramos. Ia terus melakukan pembelaan setiap kali tidak setuju dengan pernyataan atau lontaran kritik sang pelatih.

Konflik dimulai ketika Mou mulai menganalisis gol pertama Barcelona. Gol itu lahir dari set piece. Tendangan sudut Xavi Hernandez disambut tandukan terbang Carles Puyol yang tak terkawal. Mourinho sangat geram sebelumnya. Bahkan, pasca pertandingan Mou sempat berkata pada pers, “Kami tidak bisa (terus) terbobol lewat set pieces.”

Dalam sesi latihan ini, sasaran Mourinho adalah Sergio Ramos. Mou sebenarnya sudah menginstruksikan Ramos untuk terus mengawal Puyol. Sementara, Pepe menjaga Pique. Namun, saat gol terjadi, Ramos bertukar fungsi dengan Pepe. Fatalnya, Pepe bocor dan gol tercipta.

Maka, Mou menunjuk Ramos, “Di mana kamu waktu terjadi gol Puyol?”

“Kami memutuskan untuk mengubah penjagaan kepada Pique dan Puyol,” kata Ramos mencari pembenaran.

“Apakah kamu sekarang menjadi seorang pelatih?” jawab Mourinho.

“Tidak. Tapi, perubahan penjagaan tergantung pada situasi permainan. Anda tidak pernah menjadi pemain profesional sehingga tidak mengetahui ada situasi semacam itu,” Ramos tetap tegas membantah.

Beberapa pemain berusaha melerai pertengkaran “kecil” ini. Xabi Alonso termasuk yang menenangkan sang pemain yang mendapat posisi bek tengah di era Jose Mourinho.

Pertengkaran ini sebenarnya juga buntut ketidaksukaan para pemain dengan taktik ultra-defensif yang diperagakan Mou untuk menghadapi Barcelona. Jika Anda ingat, musim lalu, Cristiano Ronaldo pernah mengeluhkan hal serupa. Lantas, ia tidak dimainkan dalam pertandingan berikutnya.

Bahkan di koridor, ada beberapa pemain Madrid yang berkata, “delapan pemain defensif tak akan memenangkan pertandingan.” Mereka juga sedikit meragukan keputusan Mou untuk memasang Ricardo Carvalho dalam laga El Clasico. Meskipun Carvalho adalah pemain yang dihormati di klub, ia sempat absen empat bulan dan langsung dimainkan di laga sepenting El Clasico.

Menarik untuk diketahui, apa yang terjadi jika Real Madrid kembali kalah di leg kedua perempat final Copa del Rey. Atau sebaliknya, Los Blancos justru menang dengan strategi bertahan Jose Mourinho. Apakah keadaan akan berubah dan para pemain melunak? Ataukah Jose Mourinho yang siap-siap angkat kopor?

(Marca/Mundo Deportivo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda