Scroll to Top

Afriani Susanti dan Gaduh Media Sosial

By Ibnu Azis / Published on Wednesday, 01 Feb 2012

Twitter Afriani Susanti Palsu

Afriani Susanti sosok gadis berusia 29 tahun ini namanya tak kunjung surut di pelbagai media dalam dua minggu terakhir. Rentetan berita yang membahas tentang aksi balap mautnya di Gambir, terus diwartakan tanpa henti. Namanya kian moncer. Entah itu berita negatif atau positif, sosok Afriani Susanti bisa dikatakan sebagai aktor media sosial yang paling berpengaruh di awal tahun 2012 ini.

Publik tanah air kaget. Mereka sontak tidak percaya. Bagaimana bisa gadis subur bersama tiga rekannya dalam mobil Daihatsu Xenia mampu menghilangkan nyawa sembilan orang dalam tempo sekejap saja. Bahkan, Afriani Susanti pun hingga terheran-heran sendiri. Dengan muka polos ia turun dari mobil dan hanya berkata, “rem saya blong Pak!”.

Tak perlu menunggu lama kasus ini pun mencuat di pelbagai media. Cetak, elektronik, maupun digital (online) ramai mengabarkannya. Tak terkecuali di media sosial. Di media yang telah berevolusi menjadi sosial ini, sosok Afriani Susanti menjadi sentral hujatan serta makian massa. Gaduh media sosial memaksa Afriani Susanti untuk menutup akun Twitter-nya. Namun nasi telah menjadi bubur. Kasus ini telah merebak. Dan Afriani Susanti harus menuai panen atas benih yang ia tabur.

Kini perkembangan kasus perkara Afriani Susanti telah sampai babak akhir. Konon pihak kepolisian tengah mencoba untuk memerkarakan kasus kecelakaan tersebut dengan pasal pembunuhan. Efeknya, Afriani Susanti akan terancam hukuman minimal 15 tahun. Apakah ini sepadan?

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/yuliaonne/status/164571529085071361″]

Yulia Hasan lewat akun Twitter @yuliaonne berpendapat jika penerapan pasal (338) ini pada kasus Afriani Susanti akan menimbulkan kerancuan pada tiap kecelakaan yang menelan korban jiwa. Tapi rakyat Indonesia tak hanya menginginkan hukuman berat pada Afriani Susanti. Mereka bahkan ingin sopir ugal-ugalan ini dihukum mati!

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/YahutManagement/status/162728291483131904″]

Lain pula dengan pendapat Yahut Management. Lewat akun Twitter @YahutManagement ia berkeyakinan jika kasus Afriani Susanti dapat dijadikan pemantik para penegak hukum tanah air untuk menegaskan supremasi hukum di negeri ini. Hukum wajib tak tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Ia menginginkan tak hanya Afriani Susanti yang dijerat pasal berat. Namun pelbagai kasus hukum – khususnya korupsi – yang selalu tumpang tindih.

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/TimelineError/status/162848794281648128″]

Ada yang pro ada yang kontra. Ada yang serius namun ada pula yang bercanda. Inilah salah satu ciri khas aktivitas budaya dan ekosistem media sosial di tanah air. Timeline Error mencoba untuk menirukan gaya candaan aktor Andre Taulany ala OVJ Trans7 pada kasus Afriani Susanti di akun Twitter-nya, @TimelineError.

Afriani Susanti dan Sule

Nama Afriani Susanti mungkin di ranah publik akan cepat memuai. Namun sosoknya di media sosial akan abadi dan kekal sepanjang jaman. Nukman Lutfe, salah satu pegiat social media kenamaan tanah air, lewat Twitter-nya @nukman pernah menuliskan jika media sosial (Twitter) memiliki kekuatan yang lebih berbahaya daripada sebuah bom atom. Apa yang beliau katakan nampaknya terbukti. Nama Afriani Susanti kini di linimasa terus riuh dan didengungkan. Ia seakan kekal. Meski kasus tersebut telah terjadi dua minggu silam.

Kini Afriani Susanti tengah menghitung hari demi hari dibalik bui sebelum menghadapi masa sidang. Ia secara tulus telah menuliskan permintaan maaf pada korban dan menyesali perbuatannya. Kasus yang dialami Afriani Susanti laik untuk dijadikan pelajaran dan pengalaman berharga bagi generasi muda. Selain menjauhi narkoba dan miras, seyogyanya pengguna media sosial harus berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap di media rakyat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda