Scroll to Top

Pasca El Clasico Desember Real Madrid Konsisten, Barcelona Menurun

By Fitra Firdaus / Published on Monday, 06 Feb 2012

Seberapa besar pengaruh El Clasico bagi Real Madrid dan Barcelona? Jawabannya mungkin terlalu hiperbolis, namun faktanya menyakitkan bagi pendukung Blaugrana. Bagi Real Madrid, El Clasico tak berarti apa-apa, sedangkan Barcelona menganggap duel panas ini adalah segalanya.

Real Madrid Barcelona El Clasico

Hal ini bisa dilihat dari rekor kedua klub pasca gegap gempita permainan indah Barcelona di El Clasico Desember lalu. Kala itu, Real Madrid benar-benar kalah kelas dari pasukan Pep Guardiola. Skor 1-3 mutlak layak untuk sang juara bertahan La Liga.

Namun, Real Madrid seperti sudah menyimpan pesan tersembunyi Jose Mourinho: lupakan pentingnya duel dengan Barcelona. Kalah dari Pep Guardiola tak masalah asalkan rentetan kemenangan beruntun terus menghiasi skuad Santiago Bernabeu.

Faktanya, setelah dibekap El Barca 11 Desember, Real Madrid berlaga dalam 12 pertandingan. Enam di La Liga, enam di Copa del Rey. 10 kemenangan dilakoni dan mereka cuma menderita 1 hasil seri dan 1 kekalahan dari Barcelona.  Sepanjang waktu tersebut, ada 35 gol yang disarangkan Los Blancos. Setara dengan 2,91 gol setiap pertandingan.

Sejauh ini, efek El Clasico nyaris tidak ada bagi Real Madrid. Mereka boleh saja lebih inferior daripada Barcelona, tapi Los Blancos tahu bahwa di La Liga, kalah di El Clasico hanyalah kehilangan 3 angka; dan bukan segalanya.

Hal sebaliknya berlaku untuk Barcelona. Selepas El Clasico mereka melakoni 15 pertandingan. 6 di La Liga, 2 di Piala Dunia Antar Klub, 7 di Copa del Rey.

Blaugrana seolah masih menikmati ekstase berlebihan sudah menumbangkan Real Madrid pada El Clasico Desember. Buktinya, dalam 15 laga tersebut, ada 4 hasil seri. Tiga di antaranya terjadi berturut-turut.

Persentase kemenangan Real Madrid pasca El Clasico Desember mencapai 83%. Bandingkan dengan Barcelona yang cuma 73%.

Penentuan gelar juara didapatkan dari kekonsistenan meraih 3 angka. Real Madrid, entah dengan cara pragmatis atau indah, menggapainya di tangan Jose Mourinho. Hal yang juga terjadi ketika The Special One melatih Chelsea dan Internazionale. Sementara, Barcelona dengan permainan indahnya, senantiasa menghibur penonton, namun kehilangan peluang menang 4 kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda