Scroll to Top

Akankah Valentine Hari Ini Berakhir dengan Seks Bebas?

By Ilham Choirul / Published on Tuesday, 14 Feb 2012

seks saat valentine

Hari ini jutaan orang mungkin sedang bersuka ria merayakan Hari Valentine, atau disebut Hari Kasih Sayang. Coklat disiapkan dan sekuntum bunga mawar tidak lupa dipersembahkan buat kekasih tercinta. Pokoknya, hari ini seperti menjadi momen yang harus dipakai untuk mengikat kuatnya hubungan cinta.

Hanya saja, luapan emosi cinta ini seringkali disalahgunakan oleh pasangan yang belum menikah. Mereka tidak hanya sekadar berbagai hadiah, melainkan juga memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan “ketulusan cinta” melalui seks pranikah. Inilah sebuah aksi “pelegalan” seks bebas yang sering tersembunyi dari hari valentine.

Parahnya, seks bebas kini sudah mulai dilakukan dari remaja SMP sampai anak kuliahan. Belum lagi ditambah orang dewasa yang belum menikah dan pasangan selingkuh. Seks bebas sudah menjadi budaya lazim di negeri ini. Even pergantian tahun baru dan hari valentine kerap dijadikan alasan sebagai pembuktian cinta dengan mempersembahkan kenikmatan ragawi melalui hubungan badan.

Indikasi kuat terlihat dari penjualan kondom. Alat kontrasepsi praktis dan mudah didapat ini seringkali laku keras pada dua even itu. Hotel-hotel kelas melati penuh sesak oleh pasangan yang ingin “bermain ranjang” dengan tarif murah. Bahkan, belakangan ini tersiar kabar, ada minimarket yang menjual paket coklat dan kondom dalam satu kemasan plastik.

Dalam survey yang dilakukan DKT Indonesia pada Mei 2011, dari 663 responden para remaja, ditemukan kenyataan pahit tentang seks bebas. Sebanyak 39 persen remaja 15-19 tahun sudah melakukan seks pranikah. Untuk usia 20-25 tahun sebanyak 61 persen. Survey dilakukan di kota Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali.

Isa Ansori, ketua Hotline Pendidikan Jatim, mengatakan, ada indikasi kuat terjadinya persepsi yang salah terhadap hari valentine di kalangan pelajar. Oleh karena itu, hari ini seharusnya para orang tua lebih mengkhawatirkan anaknya terhadap bahaya seksual, terutama anak perempuan yang rentan menjadi objek pengucilan ketika diketahui melakukan seks bebas.

“Karena menjelang Valentine Day dikonotasikan boleh melakukan apapun,” kata Isa kepada Detik.

Selain hari valentine sarat dengan isu pemuasan nafsu birahi, diyakini perayaan tersebut hanya mengekor pada tradisi barat yang memang kental dengan liberalisme di bidang apa pun, termasuk cinta. Di sana, cinta itu masuk urusan pribadi. Aturan agama jangan berharap bisa membatasinya. Jadilah seks bebas menjadi urusan manusia yang Tuhan pun tidak diperbolehkan terlibat.

Kalau persepsi ini terus dijejalkan pada mindset generasi muda, maka jangan harap mendapatkan generasi penerus yang tidak bobrok moralnya. Agama, keluarga dan lingkungan yang baik tetap harus diperkuat untuk menjadi tameng terhadap budaya barat yang benar-benar merusak moral ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda