Scroll to Top

Kisruh Sepakbola Nasional Bermula dari Lumpur Lapindo?

By Aditya / Published on Tuesday, 14 Feb 2012

Selamatkan Sepakbola Indonesia

Tidak bisa ditutup-tutupi, kisruh yang melanda sepakbola Indonesia disebabkan oleh pertarungan dua kubu yang sama-sama besar dan ambisius. Di satu sisi, ada Nirwan Bakrie yang sebagai pengusung status quo. Sedangkan di kubu seberang, berdirilah Arifin Panigoro yang ternyata berada di balik PSSI era Djohar Arifin Husin sekarang ini.

Ada fakta menarik di balik persaingan kedua kubu tersebut. Seorang yang menyebut dirinya Primata Euroasia, menulis artikel yang diunggah di Kompasiana (7 Februari 2012). Di artikel itu, disebutkan bahwa sebenarnya antara Nirwan Bakrie dan Arifin Panigoro sudah terjalin persahabatan sejak lama, termasuk di bidang sepakbola. Dulu, Nirwan Bakrie mengelola kompetisi resmi PSSI dan tim nasional, sedangkan Arifin Panigoro mendapat jatah melakukan pembinaan usia muda, salah satunya lewat Liga Medco, yang tentu saja mendapat izin dari PSSI kala itu.

Geger lumpur panas Lapindo ternyata juga memanaskan hubungan dua sahabat itu. Saham mayoritas PT. Lapindo Brantas memang dimiliki keluarga Bakrie sebesar 50%, namun Arifin Panigoro lewat Medco Energi juga punya saham sebesar 38%. Tak mau terlibat masalah, Arifin Panigoro kemudian mengobral semua sahamnya dengan harga murah. Inilah awal renggangnya persahabatan kedua tokoh itu.

Ketika Nurdin Halid yang saat itu menjadi Ketua Umum PSSI digoyang untuk mundur, Arifin Panigoro menyeruak masuk dengan menggaungkan reformasi PSSI. Digelarlah liga tandingan yang diberi nama Liga Primer Indonesia (LPI) untuk menyaingi Liga Super Indonesia (LSI), kompetisi resmi PSSI waktu itu.

Akhirnya, gerakan “reformasi” pun berhasil mengambil-alih tahta PSSI dan menaikkan Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum. Lantas, di mana Arifin Panigoro? Dalam beberapa kesempatan, oleh sejumlah pengurus PSSI sendiri, Arifin Panigoro disebut sebagai Dewan Syuro PSSI. Rapat PSSI pun beberapa kali diselenggarakan di kediaman Arifin Panigoro.

Kini, persepakbolaan Indonesia semakin ruwet. Pasalnya, kubu Nirwan Bakrie tak mau kalah dengan tetap menggulirkan ISL hingga lahirnya Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) dengan mengusung Kongres Luar Biasa untuk PSSI. Kondisi semacam ini jelas tidak akan merugikan banyak pihak jika kedua kubu ini masih berseteru di persepakbolaan nasional. Lalu, kapan kisruh ini akan berakhir? Tanyakan saja pada lumpur yang bergoyang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda