Scroll to Top

Inilah Enam Laga Liga Champions Kala AC Milan Menang dengan Skor 4-0

By Fitra Firdaus / Published on Saturday, 18 Feb 2012

Dahulu, Liga Champions adalah tempat pertemuan raja-raja dari seluruh kompetisi di Eropa. Kini, meskipun liga dengan koefisien tertinggi seperti Liga Spanyol dan Liga Inggris bisa menampilkan 4 wakilnya di ajang ini, tetap saja label kompetisi tertinggi antar klub Eropa ini tak berubah: inilah liga elite dengan persaingan luar biasa ketat.

AC Milan vs Arsenal 4-0

Wajar jika ada ekspektasi, tak mungkin sebuah tim bisa menghancurkan lawan-lawannya dengan skor besar berkali-kali. Kalaupun ada tim yang demikian tangguh melakukan hal tersebut, artinya klub ini bukan klub biasa. AC Milan, sang juara Liga Italia musim 2010/2011, masuk dalam daftar klub ini. Ya, sejak musim 1992/1993, tercatat sudah 6 kali Rossoneri menggelontor tim lawan dengan skor kembar 4-0.

Pertandingan pertama ketika AC Milan membasmi musuh dengan empat gol tanpa balas, terjadi pada babak grup delapan besar musim 1992/1993. Kala itu The Dream Team-nya AC Milan menyikat tim tamu IFK Goteborg. Yang lebih fantastis, Marco Van Basten memborong semua gol tersebut. Bahkan, tiga gol terakhir —satu di antaranya melalui titik putih— dicetak dalam 10 menit.

Selang setahun, kembali AC Milan mengulang skor serupa. Kali ini lawan yang dihadapi lebih berat, yaitu Barcelona di final musim 1993/1994. Barcelona saat itu, sama halnya AC Milan, berlabel The Dream Team. Duel final yang semestinya berjalan panas, berakhir dengan kemenangan telak di satu sisi. Daniele Massaro (2 gol), Dejan Savicevic, dan bek Prancis Marcel Desailly membenamkan pasukan Johan Cruyff sekaligus membayarkan dendam atas gelar yang tertunda musim sebelumnya.

Seiring menuanya trio Belanda di kubu AC Milan, butuh waktu hingga sembilan tahun untuk menciptakan skor besar 4-0. Kali ini skor ini terjadi di babak penyisihan grup Liga Champions musim 2002/2003.

Deportivo La Coruna yang saat itu masih menjadi salah satu klub elite Liga Spanyol dipaksa menggigit jari di Riazor, kandang sendiri. Kali ini pelaku pembantaian adalah Clarence Seedorf dan pemain yang terlahir dalam posisi off side, Filippo Inzaghi. Pippo bahkan bisa memborong tiga gol ke gawang Super Depor dalam waktu 29 menit.

Dua musim berikutnya, 2005/2005, skor 4-0 kembali terulang. Kali ini giliran wakil Ukraina  Shakhtar Donetsk yang tak kuasa menahan laju Rossoneri. Masing-masing Ricardo Kaka dan Hernan Crespo mencetak dua gol di laga ini.

Selang setahun giliran Fenerbahce yang dihajar 4-0 di penyisihan grup musim 2005/2006. Seolah ingin mengulang kedigdayaan Marco van Basten, Andrii Shevchenko membukukan 4 gol sekaligus ke gawang wakil Turki. Hebatnya hal ini terjadi di kandang lawan, stadion Sukru Saracoglu. Sheva mengemas 4 gol dalam 60 menit, sejak menit 16 hingga menit 76 dalam laga tersebut.

4-0 terakhir terjadi pada laga menghadapi Arsenal dua hari lalu. Kali ini, bertempat di San Siro, Kevin Prince Boateng, Robinho, hingga Zlatan Ibrahimovic menghukum Wojciech Szczesny.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda