Scroll to Top

John Kei Hanya Sekadar Pengalihan Isu?

By Ibnu Azis / Published on Sunday, 19 Feb 2012

John Kei

Sosok John Kei dua hari ini merebak di tanah air. Ia adalah seorang ‘gangster garang’. Tak takut dengan aparat. Dan tak gentar dengan peluru. Namanya moncer menghiasi halaman depan pelbagai media. Termasuk media sosial.

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/DiandraGautama/status/171099708402577408″]

Lantas bagaimana reaksi tweeps atas penangkapan John Kei? Well, bisa ditebak. Budaya ‘bergaul sosial’ masyarakat Indonesia sangat unik. Mereka sangat peka. Kasus apapun yang terjadi di tanah air, tweeps memiliki kesimpulan sendiri-sendiri. Seperti tweet dibawah ini.

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/arifz_tempo/status/171101923322249217″]

Apakah benar penangkapan John Kei hanyalah sebuah strategi pengalihan isu pihak penguasa? Bisa jadi. Sebab potensi vital masyarakat Indonesia adalah rasa keingintahuannya yang tinggi.

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/Mariasabatiny/status/171100966924468224″]

Sekarang mereka telah memiliki obyek baru. Bahan perbincangan. Bahan gunjingan. Bahan olok-olokan. Atau yang lebih ekstrim, idola baru. Sosok pahlawan tagguh dan tegar yang tak gentar dengan arogansi aparat. John Kei mencuat. Kini tweeps awam sekalipun mengerti siapa John Kei.

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/uutieituu/status/171099800362684416″]

Apakah mereka benar-benar paham dan mengenal sosok John Kei? Tentu saja tidak. Tak sedikit dari mereka yang bertanya, siapa sebenarnya John Kei. Apakah ia artis baru, selebritis dadakan, atau politikus yang korupsi? Namun dari pelbagai situasi ini dapat diambil sebuah kesimpulan, masyarakat mulai melupakan sejenak kasus besar yang sedang terjadi bukan?

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/senjatarahasia/status/171114426483740673″]

Meski John Kei terkenal dengan sebutan ‘preman garang’ namun tak sedikit dari tweeps yang menuliskan sindiran atas aksinya. Mereka berpendapat jika John Kei terlalu percaya diri atau istilah kasarnya narsis. Seperti tweet di atas.

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/adikharisma/status/171113941022425088″]

Ada yang memuja, dan ada yang mencaci. Ada yang serius dan ada pula yang bercanda. Itulah salah satu ciri khas perilaku media sosial tanah air.

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/dini_1012/status/170755071213182977″]

Belum selesai kasus John Kei muncul kasus lain yang mendukung bombastisnya berita tersebut. Telah tertangkap tangan seorang artis (seni peran) yang secara kebetulan saat penggrebekan John Kei ditempat yang sama kedapatan mengomsumsi shabu-shabu. Sempura! Semakin menambah sensasi berita ‘preman garang’ ini.

[blackbirdpie url=”http://twitter.com/#!/galihhh/status/171036162943758338″]

Media sosial adalah media rakyat. Media ini menjadi pilar utama dalam berhubungan serta berkomunikasi di kalangan rakyat. Tweeps harus secara bijak dan cermat dalam menerima dan menelaah pelbagai informasi yang berkeliaran di linimasa.

Jika benar kasus John Kei adalah sekadar pengalihan isu, maka penguasa memang telah siap sedia dengan segala amunisi dan strategi mereka di media sosial. Mereka sadar benar jika media ini memiliki potensi yang luar biasa dan berdampak besar dalam arus informasi.

Namun ingat, tidak sedikit peristiwa di dunia yang menggunakan media sosial sebagai roda untuk menjungkalkan pemerintah. Sebut saja kasus di Mesir, Tunisia, atau kerusuhan London.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda