Scroll to Top

Ada Pasukan Pemberontak di Chelsea?

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 22 Feb 2012

Dalam sejarah kepemimpinan Roman Abramovich di Chelsea, klubnya memang pernah tersingkir dari babak 16 besar Liga Champions.  Namun, selama King Roman yang belakangan irit belanja, mengontrol pembelian The Blues, barangkali tidak ada keadaan seperti saat ini: munculnya tiga pemberontak kawakan di Chelsea.

andre-villas-boas

Lihatlah susunan starting XI saat Chelsea melawat ke kandang Napoli. Tidak ada Frank Lampard dan Ashley Cole. Lampard dan Cole memang tetap bermain. Cole menggantikan Jose Bosingwa di menit 12 dan Lampard tampil sebagai pengganti Florent Malouda di menit 70. Namun, ketidakhadiran mereka di pilihan utama menjadi pertanyaan.

Bukan tanpa alasan AVB menampilkan skuad tanpa duo Inggris tersebut. Bukan rahasia pula kalau keduanya baru saja mengkritik strategi AVB. Lampard dan Cole yang usianya sudah meninggalkan kecepatan mereka, ingin terus bermain sebagai pemain inti. Keberanian AVB memasang Ryan Bertrand dalam laga melawan Birmingham City menjadi keresahan Cole. Sementara itu, Lampard sudah berkali-kali didudukkan di bangku cadangan; sesuatu yang hanya ada dalam mimpi buruk pelatih Chelsea musim-musim sebelumnya.

Kebijakan Villas-Boas memarkir sementara dua pemain gaeknya di laga melawan Napoli ini, menunjukkan semakin terbukanya intrik terselubung di kubu Chelsea. Saat ini, memang ada beberapa pemain yang “lebih besar daripada klub”, demikian pers Inggris menyebut. John Terry, Ashley Cole, dan Frank Lampard adalah tiga orang yang secara kasat mata terlihat dalam golongan ini. Mereka memiliki otoritas yang besar untuk mentalitas para pemain Chelsea lain daripada AVB.

Ketiganya bagai duri dalam sekam. Sudah uzur, saatnya diganti, tapi seolah lupa dengan keadaan. Hasilnya, ketegangan AVB dan ketiga pemain ini berdampak luas. Chelsea belakangan tampil melempem, seperti lupa bahwa pertandingan berlangsung 90 menit, bukan hanya 10 atau 15 menit.

Musim lalu, gaya “sok menjadi boss” juga melanda Chelsea. Kala itu, Lampard dan Terry menjadi pemimpin para pemain untuk memberontak Carlo Ancelotti. Bahkan, sempat terjadi aksi tutup mulut antara Ancelotti dengan kedua pemain ini sehingga Chelsea sempat hancur di pertengahan musim. Beruntung, Ancelotti bisa berdamai dan Chelsea meluncur bagai kereta sebelum dipaksa menyerah 2-1 di Old Trafford dalam laga penentuan gelar juara Premier League.

Kini, serentetan hasil lebih buruk juga menghiasi perjalanan Chelsea, bahkan lebih buruk daripada musim lalu. Maka, jika keadaan berlanjut hingga tahun-tahun mendatang, Abramovich cuma memiliki dua pilihan: membuang para pemain tua yang masih ngotot ingin bermain, atau terus-menerus mengganti pelatih demi mengakomodasi “para bos besar” yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda