Scroll to Top

Angelina Sondakh dan Pengadilan Rakyat

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 24 Feb 2012

Angelia Sondakh adalah koruptor yang tak berhati. Demikian opini yang belakangan muncul di berbagai kalangan. Seorang mantan artis yang kini menjadi anggota DPR, hidup bergelimang harta, berkaraoke dengan riang gembira hanya seminggu setelah meninggalnya sang suami, Adjie Massaid.

Angelina Sondakh

Hukuman publik bertambah dengan kebohongan Angie yang tak mengakui kepemilikan blackberry pada saat berkomunikasi dengan Mindo Rosalina Manulang.

Tidak ada masalah ketika kita mengklaim Angie berbohong masalah blackberry. Tidak salah pula kalau kita berang (dan mungkin sekaligus iri) dengan gaji Angei yang sekitar 20 juta perbulan di DPR, keberuntungan dan “kelicinannya” mendapatkan proyek basah. Namun, mengapa kita dibiarkan melucuti masalah rumah tangga seseorang yang sudah meninggal?

Dari segi etika, pengungkapan borok rumah tangga Angie-Adjie di media jelaslah bukan hal yang baik. Seolah ada penggiringan opini publik bahwa Angie hanya berperilaku bejat semata: di hatinya hanya ada uang, uang, dan uang. Padahal, mana mungkin seseorang —sejahat apa pun— cuma memiliki satu sisi kehidupan. Angie pastinya memiliki sifat-sifat baik yang kebetulan sekarang tertilep oleh keburukannya yang jauh lebih diangkat di media.

Jangan sampai muncul opini bahwa seseorang yang sedang dibenturkan denga Angie adalah pahlawan; atau orang yang lebih bersih daripada Angie. Jika opini ini menguat, dipastikan akan ada banyak orang berkepentingan yang bertepuk tangan.

Jangan sampai pula muncul opini bahwa Angielah satu-satunya orang bersalah dari sekian orang di sekian partai politik; satu-satunya pelaku kejahatan di sebuah gedung yang yang bisa menciptakan kalender biasa dengan harga fantastis; satu-satunya yang buruk di dunia politik yang memang mengharuskan seseorang berbuat licik jika ingin bertahan hidup; hanya karena masalah rumah tangganya yang diungkap ke publik.

Dalam strategi perang jarak dekat, seorang raja akan berada di barisan paling belakang. Ia akan mengorbankan satu demi satu prajurit hingga panglima perangnya asalkan selamat. Raja ini tidak boleh mati demi tetap bertahannya kekuasaan. Namun, kekuasaan pada zaman modern bukanlah kekuasaan personal; bukan pula kekuasaan golongan.

Kekuasaan pada zaman ini adalah kekuasaan rakyat. Harapan kita, jangan sampai rakyat yang berkuasa ini, justru termakan gosip-gosip murahan atau upaya pengalihan isu dengan menghitamkan seorang panglima perang yang kebetulan bersalah, demi menyelamatkan raja dan sistem kerajaannya yang “dosanya” lebih menggunung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda