Scroll to Top

Ketika Barcelona Disebut Sebagai FC UEFA

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 04 Apr 2012

Lolosnya Barcelona ke semifinal Liga Champions mengundang kontroversi. Kemenangan mereka 3-1 atas AC Milan di Camp Nou tadi pagi membuat banyak penggemar sepakbola di dunia bereaksi. Tak sedikit yang memuji permainan menyerang yang diperagakan Barcelona sepanjang laga. Namun, banyak pula yang menyindir gol kemenangan El Barca; terutama penalti kedua yang dianggap kurang fair.

Barcelona

Seorang penggemar sepakbola dari Manchester, Inggris, menyebutkan, “Bagai sebuah lelucon. Saya sungguh ingin agar Milan memenangi laga ini. Tibakah saatnya mendukung Real Madrid menghadapi FC UEFA di Muenchen (dalam laga final)?”

Sementara, Graeme dari Sussex Selatan, mengucapkan komentar yang lebih tajam. “Sudah jelas siapa yang menginginkan UEFALONA (pelesetan dari UEFA + Barcelona) menang, bukan? Kejadian Tom Overbo terulang lagi.”

Tom Overbo adalah wasit yang memimpin leg kedua semifinal Liga Champions musim 2008/2009 antara Chelsea menghadapi Barcelona. Ketika itu, wasit asal Norwegia ini mengabaikan empat klaim penalti Chelsea. Di sisi lain, Overbo juga kedapatan memberi kartu merah kontroversial kepada Eric Abidal, bek Barcelona.

Ada pula fans Inggris yang berkata, “12 pemain Barcelona di lapangan. Sebuah kejutan.”

Sementara, seorang fans berat Liverpool berkata, “Tidak ada sebuah klub pun di Eropa yang memiliki kesempatan menang menghadapi Barcelona dan wasit mereka.”

Stevie Richards dari London berkata, “Cukup mengesalkan hal ini terjadi lagi. Saya ingat musim lalu Arsenal sempat menahan imbang Barcelona 1-1 di Camp Nou (di leg pertama Arsenal memang 2-1). Lantas, wasit yang bodoh, mengeluarkan Robin Van Persie hanya karena ia tidak mendengar peluit wasit. Kontroversi semacam ini harus dihentikan. Ketika tim kecil bertamu ke markas tim besar, hal ini selalu terjadi. Wasit tidak boleh takut terhadap tim besar. Mereka harus membuat keputusan yang fair, tidak bias, dan benar. UEFA harus menekankan ini kepada para wasit.”

Namun, bukan berarti tidak ada komentar positif untuk Barcelona. Zay dari London berkata, “Saya tidak mengerti kebencian terhadap Barcelona (atas hasil ini). Apakah Anda sekalian menonton pertandingan? Penalti pertama sangat jelas, seterang hari dengan matahari yang terik. Penalti kedua pun demikian pula (sangat jelas) andai Puyol tidak mendorong Nesta (setelah Alessandro Nesta menarik baju Sergio Busquets). Aksi Puyol inilah yang membuat pelanggaran Nesta menjadi ambigu. Pada leg pertama (di San Siro) ada dua penalti yang semestinya didapatkan Barcelona; dan mereka tidak memperolehnya. Yang jelas, hari ini kita tidak melihat penalti yang diperoleh berkat aksi diving. Penalti kedua memang bisa diperdebatkan. Namun, seolah-olah semua orang memiliki kacamata yang berwarna Real Madrid.”

Ada pula yang berkata, “Harian Marca yang senantiasa membela Real Madrid, memberi nilai 7/10 kepada wasit yang memimpin pertandingan; sambil menyebut wasit memimpin laga dengan baik. (Clarence) Seedorf berkata, tim yang lebih baiklah yang lolos meski ia tidak setuju dengan penalti kedua. Yang tak kalah penting, fans Barcelona memberi aplaus kepada Seedorf ketika ia diganti, meski Seedorf adalah eks pemain Real Madrid.

Fans sepakbola di luar negeri berbeda pendapat tentang Barcelona dan keputusan wasit. Lalu, bagaimana pendapat Anda? Silakan tulis argumen Anda dalam kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda