Scroll to Top

Anak Stres Mungkin Perlu ke Psikiater

By Ilham Choirul / Published on Thursday, 12 Apr 2012

anak-stress

Bukan orang dewasa yang bisa stres. Anak-anak pun juga bisa mengalami hari buruk yang berpotensi mengalami depresi. Sama bahayanya jika hal tersebut tidak segera diatasi. Depresi membuat tubuh bereaksi negatif terhadap kesehatan fisik dan mental.

Mendatangi psikiater jangan Anda anggap tabu ketika mendapati dalam diri anak sedang terlihat tanda stres. Mereka ibarat dokter yang coba menenangkan gejolak emosi sang anak. Sehingga, emosi tidak menjalar menjadi perilaku buruk. Anak akan mendapatkan senyumnya lagi dengan hati lapang tanpa beban.

Ada banyak masalah yang bisa membuat anak stres. Yang paling dekat dengan mereka adalah pendidikan. Banyak anak yang “dipaksa” orang tuanya untuk ikut berbagai kegiatan les di luar jam sekolah. Seharian mereka direcoki dengan ilmu pengetahuan tanpa memandang keterbatasan anak dalam menyerapnya. Akibatnya, anak menjadi jenuh, stres, dan takut untuk berontak pada orang tuanya.

Menginjak remaja, anak dihadapkan pada masalah pubertas. Pada remaa wanita, misalnya, mereka mungkin akan sedikit stres saat menjalani pertama kali mendapatkan menstruasi. Mereka perlu orang lain yang bisa menenangkan hatinya.

Kehadiran psikiater menjadi sangat penting ketika orang tua sudah lepas tangan dalam menghadapi perilaku anak yang mungkin terasa “aneh”. Tidak perlu ekstrim menganggap anak Anda seperti orang gila jika ke psikiater. Justru makna sempit itu harus Anda hilangkan demi mendapatkan senyum anak kembali, lepas dari beban masalah.

Ada beberapa kasus yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk mempertemukan anak kepada psikiater kala tidak bisa lagi Anda tangani:

  • Ketika orang yang dekat dengan anak ada yang meninggal.
  • Ketika sang anak mendapat perlakuan kasar dari anak lain, semisal berkelahi.
  • Anak tiba-tiba menjadi pendiam saat bersama anggota keluarga lain.
  • Anak terlihat stres dan tidak bahagia, namun dia tidak mau mengungkapkan masalahnya.
  • Anak sering mendapatkan nilai buruk di sekolahnya.
  • Anak kerap marah tanpa ada sebab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda