Scroll to Top

Hampir Pasti Degradasi, Fans Mengamuk Pada Pemain Racing Santander

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 13 Apr 2012

Bertahan di Primera Division sejak musim 2002/2003 membuat pendukung Racing Santander sedikit lupa dengan pahitnya terdegradasi. Meski dalam sembilan musim berturut-turut Racing senantiasa berjuang untuk lepas dari tiga peringkat terbawah, kesalahan para pemain di musim ini tak bisa dimaafkan.

RaCING Santander 3Ya, saat ini Racing terbenam di peringkat terbawah (20) dengan koleksi 25 poin dari 32 pertandingan.

Mereka terpaut 10 angka dari peringkat 16, peringkat terakhir yang memungkinkan sebuah klub bertahan di Primera Division.

Dengan hanya menyisakan 6 pertandingan lagi, mengejar 10 poin adalah perbuatan yang lebih sulit daripada mencari jarum di tumpukan jerami.

Artinya: selamat tinggal wakil wilayah Santander. Selamat datang di Segunda Division seperti musim 2001/2002.

Maka setelah kekalahan tim mereka 0-3 atas Real Mallorca dini hari tadi, satu hal yang dilakukan para fans.

Sekitar 500 penggemar Racing Santander memutuskan untuk sedikit “memberitahukan kekesalahan mereka” kepada para pemain.

Mereka berkumpul di sekitar tempat parkir mobil para pemain Racing Santander begitu para pemain keluar dari ruangan ganti.

Korban kemarahan fans bukanlah para pemain muda. Sebutkan Julian Luque Conde (20 tahun, penyerang); Quique Rivero (19 tahun, gelandang), Dani Sotres (18 tahun, kiper), dan Mario Fernandez (23 tahun, kiper).

Para pemain muda ini tidak mendapatkan intimidasi; bahkan mendapatkan tepuk tangan karena dianggap loyal untuk Los Racinguistas.

Namun, para pemain lain mendapatkan tekanan hebat. Sasaran paling fatal adalah Alvaro Gonzalez, pemain berusia 22 tahun yang musim ini menjadi tumpuan lini pertahanan Santander ini dikepung.

Mobilnya dikelilingi oleh dua lusin fans; dan dihina. Belum cukup, para fans mengolok-oloknya untuk pindah ke Sevilla saja. Sevilla menghancurkan Santander 0-3 pada 22 Maret 2012.

Sementara, pemain lain menerima makian yang sama kejamnya. Ada yang dicap sebagai ‘pasukan bayaran’ yang hanya mau tampil baik andai uang ada di genggaman tangan; padahal Racing tengah mengalami krisis.

Bahkan, ada pula yang tak kuasa menitikkan air mata ketika para fans berkata “Mati! Mati!”.

Beberapa kaleng soda dilemparkan sebagai pelampiasan; flare pun dinyalakan. Namun, seperti yang dilansir AS, polisi tidak melakukan penangkapan atas beberapa oknum fans.

Sedih oleh rentetan kekalahan, marah karena klubnya bahkan menjadi pecundang di El Sardinero, dan hanya ingin klub tampil lebih baik. Harapan fans Racing Santander musim ini tak kesampaian. Klub mereka limbung; dan sebagai ‘pemilik klub yang sejati’ fans memang layak mengamuk.

Sementara klub hancur di Liga Spanyol, sang pemilik Ahsan Ali Syed yang mendapat pemantauan khusus dari interpol, hilang begitu saja dari peredaran; seolah tak berdosa dengan janjinya setahun lalu ketika berkata Racing akan mampu bersaing dengan Barcelona dan Real Madrid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda