Scroll to Top

Liga Champion 1985/1986: Kalah 3-0 di Leg Pertama, Barcelona Lolos Ke Final

By Fitra Firdaus / Published on Monday, 23 Apr 2012

Barcelona tengah berada dalam masa-masa sulit. Setelah gelar Liga Spanyol hampir pasti lepas ke kubu Real Madrid, pasukan Josep Guardiola harus berkonsentrasi di Liga Champions. Keadaan rumit karena mereka sudah tertinggal 1-0 di leg pertama. Namun, Barcelona bisa menengok ke belakang, tepatnya pada Liga Champions (saat itu masih bernama European Cup) musim 1985/1986. Ketika itu, keadaan jauh lebih buruk daripada saat ini. Barcelona sudah tertinggal 3-0 di leg pertama, tapi berhasil lolos ke final.

Pichi

2 April 1986. Lebih dari 44 ribu penonton yang memadati Stadion Ullevi menjadi saksi pesta IFK Goteborg, klub Swedia. Berhadapan dengan Barcelona, juara Liga Spanyol musim sebelumnya, Goteborg mampu menang besar dengan skor 3-0. Gol-gol disumbangkan oleh Torbjorn Nilsson di menit 24 dan 44, plus Tommy Holmgren menit 60. Sebuah kejutan besar bagi Barcelona yang di perempat final mampu menyingkirkan juara bertahan Juventus.

Maka, ketika 14 hari berselang Barcelona menjamu Goteborg di Camp Nou, pesimisme pun hadir. Bagaimana mungkin sebuah klub yang tertinggal 0-3 akan memenangi laga semifinal?

Namun, ternyata hasil di luar dugaan. Camp Nou seolah menyihir pasukan tanah Swedia. Pichi Alonso, penyerang kelahiran 17 Desember 1954 menjadi momok menakutkan bagi kiper Thomas Wernersson. Baru sembilan menit laga berjalan, Pichi sudah membuat Barcelona menipiskan jarak.

Belum cukup, babak kedua menjadi momen paling ajaib bagi Barcelonamusim tersebut. Hanya dalam interval enam menit, Pichi menciptakan dua gol, masing-masing di menit 63 dan 69. El Barca pun berhasil unggul 3-0.

Hingga pertandingan berakhir, agregat tetap 3-3. Tidak ada jalan lain kecuali menempuh adu penalti. Lagi-lagi, drama menyelimuti laga Barcelona versus Gotenborg.

Penendang penalti ketiga El Barca, Francisco Jose Carrasco gagal melakukan eksekusi penalti. Sementara, seluruh algojo Gotenborg hingga tendangan keempat, tak menemui kesulitan menaklukkan Francisco Javier Urruticoechea atau Urruti.

Barulah eksekutor kelima mereka, Roland Nilsson layu ketika tendangannya berhasil diamankan sang kiper. Sebaliknya, Urruti yang menjadi algojo kelima Barcelona malah sukses membobol gawang Goteborg. Otomatis skor 4-4.

Pada penalti keenam, Per Edmund-Mort dari Goteborg lagi-lagi tak bisa menjadi eksekutor yang sempurna; sementara penalti Victor Munoz sukses mengantar Barcelona ke final.

Sayang, di partai puncak, El Barca kalah dalam drama yang sama, adu penalti, dengan wakil Rumania, Steaua Bucharest, dengan skor 2-0. Padahal, laga tersebut terjadi di Ramon Sanchez-Pijzuan.

Dua hari lagi, Barcelona tentu berharap sihir musim 1985/1986 kembali hinggap kepada mereka. Tinggal menunggu apakah Lionel Messi akan menjadi Pichi Alonso kedua; atau Victor Valdes menjadi Urruti berikutnya; atau kali ini Chelsea yang sukses meredam pasukan Pep Guardiola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda