Scroll to Top

Efek Media Sosial Bagi Anak

By Aisyah Indarsari / Published on Monday, 11 Jul 2011

social-media-anakPembicaraan mengenai media sosial – atau dalam dunia teknologi informasi lebih dikenal dengan nama social media – seakan tidak ada habisnya. Beberapa situs media sosial terkenal seperti Facebook maupun Twitter bahkan seperti sudah menjadi gaya hidup masyarakat modern. Siapa saja yang tidak punya akun Facebook atau Twitter akan dianggap ketinggalan jaman. Dan pemahaman ini rupanya juga sudah diamini oleh anak-anak kita, bahkan yang masih dibawah umur sekalipun.

Sebenarnya situs-situs media sosial memberikan batasan umur yang jelas bagi penggunanya. Akan tetapi, hal tersebut tidak benar-benar bisa membendung rasa keingintahuan anak-anak kita terhadap media sosial yang menghebohkan ini. Jika kita telaah lebih lanjut, ada efek positif dan negatif media sosial bagi anak-anak kita.  Berikut beberapa diantaranya menurut Dr. Gwenn O’Keeffe, CEO dan kepala editor Pediatrics Now seperti yang dikutip dari ivillage.com:

Positif:

  • Kebanyakan situs media sosial cukup baik. Itu adalah tempat dimana anak-anak bersosialisasi, dan terhubung bersama teman-temannya di masa kini. Mengingat tempat sosial anak-anak semakin hari semakin berkurang. Mereka tidak punya tempat untuk berkumpul seperti pada jaman orang tua mereka dulu. Sedangkan media sosial memungkinkan mereka memiliki waktu untuk bertemu.
  • Beberapa studi menyebutkan, bahwa media sosial mendorong anak-anak untuk berhubungan antara satu dengan lainnya, dan juga untuk mengekspresikan kreatifitasnya.
  • Ada kalanya di media sosial anak-anak bisa mendapat informasi yang bermanfaat untuk pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya.

Negatif:

  • Media sosial menargetkan penggunanya bagi usia remaja keatas. Akan tetapi terkadang siapapun bisa memalsukan data kelahirannya hanya agar berhasil mendapatkan akun suatu situs media sosial. Terlebih lagi jika orang tua memperbolehkan mereka melakukan hal tersebut. Ini berarti membolehkan mereka untuk melakukan kebohongan demi sesuatu hal.
  • Konten pornografi yang mungkin muncul di situs-situs media sosial juga merupakan hal negatif yang sulit dibatasi. Saat ini mengirim dan menerima gambar hanya dalam hitungan detik saja. Sehingga terkadang rasa ingin tahu anak-anak pada masa tumbuh kembangnya akan sesuatu hal, bukan tidak mungkin bisa menjerumuskannya.
  • Diduga resiko potensial lainnya adalah yang baru-baru ini disebut “depresi Facebook”. Ketika anak-anak pra remaja dan remaja mulai banyak menghabiskan waktunya di situs-situs media sosial, mereka mulai menunjukkan gejala-gejala depresi, seperti berubahnya waktu tidur dan makan, sering berubah-ubahnya mood seseorang, bergaul dengan orang-orang yang salah atau bahkan malah menjadi semakin tertutup.

Mengatasi itu semua lanjut O’Keeffe, ada beberapa hal yang bisa orang tua lakukan:

  • Akan lebih baik jika anak memiliki orang tua yang bisa berbaur dengannya. Bahkan jadilah teman di akun Facebook nya. Jika seorang anak tidak mau menjadikan orang tuanya teman di akunnya, hal ini bisa mengindikasikan ada sesuatu hal yang disembunyikannya.
  • Sama seperti ketika mengajari anak Anda memasak di dapur atau menyetir mobil. Bersosialisasi di media sosial juga perlu Anda arahkan. Jangan berasumsi anak-anak akan selalu tahu hal-hal seperti ini.
  • Pentingnya para praktisi pendidikan dan kesehatan Anak untuk bisa memberikan edukasi yang baik kepada orang tua juga anak-anak mereka agar memahami berkembangnya media, dan efek yang mungkin akan mereka hadapi.
  • Perlu adanya diskusi terbuka antara orang tua dan anak tentang kegunaan media sosial bagi mereka. Orang tua tidak harus membatasi, akan tetapi komunikasi yang baik akan lebih tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda