Scroll to Top

Cloud Computing Merambah Ke Gaming Di Masa Depan Nanti

By Ivan Azzam / Published on Saturday, 16 Jul 2011

Pembajakan masa kini makin menggila saja, mulai dari film, sistem operasi, dan tentu saja game. Para pengembang tentu terus mencari cara bagaimana uang dari penjualan game mereka mengalirnya ke kantong mereka dan bukan pembajak, dan cara bagaimana menghapuskan pembajakan adalah hal yang terus diusahakan di industri game.

Apa usaha tersebut? Adalah penggunaan cloud computing dalam game (cloud game based) sebagai tindakan anti pembajakan di masa depan. Hard copy (berbentuk fisik) dan digital download dari game tentunya sangat mudah direplikasi, karena para pengguna bisa membuat image (.iso) dari game tersebut dan taruh di web, voila! Siapapun yang punya software untuk menjalankan game tersebut bisa memainkannya dan ini juga terjadi di industri mobile gaming.

Rob Wyatt, kepala ilmuwan di penyedia layanan cloud¬†gaming Otoy (iya memang, namanya agak aneh di bahasa Indonesia :D) mengatakan “Pembajakan di mobile gaming makin menjadi, lebih mudah membangun sebuah game diatas WebGL dan HTML5, jadi mudah untuk menemukan suatu file dan mengunduhnya.”

Lalu apa yang harusnya publisher game lakukan? Tentu beralih ke layanan cloud. Contoh perusahaan berbasis cloud gaming adalah OnLive, Gaikai, dan Otoy menjalankan game buatan mereka dari server mereka dan melakukan streaming ke komputer/perangkat pengguna/klien. Inilah yang menyebabkan mereka sulit dibajak, karena berjalan diatas “awan”.”

Beberapa publisher serius dalam berpindah ke cloud-based gaming agar menjadi standar dalam industri game. Ini adalah pemecahan yang mutualis, dimana pengembang bisa mendapat penghasilan secara maksimal dan mengalahkan pembajakan dan konsumen mendapat pengalaman bermain yang berkualitas, meski dengan koneksi internet pas-pasan hampir tidak ada bedanya antara cloud gaming dan PC/console gaming, dikutip dari VentureBeat. CEO OnLive Steve Perlman berpendapat cloud gaming adalah jenis game yang tersedia 10 tahun kedepan.

Lalu bagaimana nasib konsol seperti Xbox 360, PlayStation 3 dan Wii U? Masih menurut Wyatt, seperti yang dikutip dari DailyTech, kombinasi resesi ekonomi saat ini dan kurangnya kebutuhan akan konsol seperti di atas memberi tempat yang lebih baik pada cloud gaming.

“Generasi penerus dari konsol diatas (PlayStation 4 misalnya) sungguh diragukan nasibnya, masing-masing konsol menawarkan fitur yang mirip-mirip, lebih baik jika kita hanya punya satu perangkat gaming, namun bisa dimainkan dari perangkat lain, misalnya televisi atau tablet.”

Perusahaan gaming bisa mendapat uang dari cloud-based gaming melalui dua kemungkinan, atau penggabungan keduanya. Yaitu memberi biaya berlangganan per bulan untuk pengguna atau memasang biaya untuk game baru, seperti layaknya toko video game. Atau lakukan seperti yang dilakukan OnLive, memasang biaya berlangganan dan tarif untuk judul baru dari sebuah game.

Keuntungan dari cloud gaming ini tentu menguntungkan publisher game dan bagi gamer, tidak akan ada cheat dalam cloud gaming.

Bagaimana? Sudah siap memasuki era cloud gaming?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda