Scroll to Top

Dulu, Gaun Pengantin Putih Dianggap Murahan

By Ilham Choirul / Published on Friday, 18 May 2012

gaun pengantin putih

Tren warna gaun pengantin berwarna putih ternyata awalnya terkait dengan biaya pembuatan bahan. Warna putih dinilai sebagai busana yang lebih murah dibanding kain yang berwarna. Tak ayal dulu gaun ini hanya untuk orang yang tidak berduit.

Sementara itu, bahan kain yang berwarna seperti emas, ungu, dan biru harus melalui pembuatan yang sedikit rumit rumit. Kala itu, di zaman abad pertengahan, baju seperti sutra, satin, beludru, dan renda hanya dipakai oleh para bangsawan. Warna yang indah menunjukkan kemewahan.

Benar-benar mewah, karena proses pencelupan kain ke bahan pewarna harus merogoh kocek mahal untuk membeli pirantinya. Misalnya, warna ungu, diambil dari ekstrak lendir keong yang jarang ditemui.

Untungnya, gaun pengantin putik saat ini tidak terkesan hanya untuk mereka yang ingin busana murah. Lebih dari itu, sekalipun mungkin harga bahannya lebih murah, tetap bisa menunjukkan keanggunan saat dikenakan. Pada pernikahan Lady Diana dan Pangeran Charles saja, gaun pengantin putih dielu-elukan. Dan, sejak itu pemakaian warna putih pada gaun pengantin semakin menjadi tren.

Sebelum itu, sebenarnya ada dari kalangan bangsawan Eropa yang memakai gaun pengantin putih saat menikah. Yaitu, Ratu Victoria dengan pangeran Albert of Saxe-Coburg di tahun 1840. Kini, gaun pengantin putih sudah mendapat tempat di masyarakat dan bukan lagi busana yang murahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda